Judul : Memory In Love
Penulis : Cicilia Mugi S
Penerbit : Kanisius
Terbit : Cetakan pertama, 2016
Tebal : 227 Halaman
ISBN : 978-979-21-4549-3
Kehidupan manusia tak pernah lepas dari kisah dan cinta yang saling melengkapi. Untuk menorehkan kasih abadi, maka cinta yang layak adalah kepada Sang Pelipur Dosa. Cinta ini paling puncak. Cinta kepada Sang Penyelamat merupakan inti setiap cinta. Setiap manusia mempunyai kisah yang membingkai seluruh pengalaman hidup. Terhadap semua kisah tersebut manusia dipanggil untuk berefleksi sebagai tuntutan memaknai hidup. Itulah ungkapan Yunani kuno, "Hidup yang tidak direfleksikan tidak layak dijalani."
Refleksi salah satu cara membuat setiap pengalaman hidup lebih indah. Manusia merefleksikan pengalaman ke dalam masa lalu, sekarang, dan mendatang. Masa lalu adalah kenangan bagi manusia. Kini kenyataan yang tidak bisa ditolak. Sedang masa depan merupakan sebuah harapan yang harus direncanakan. Semua mengiringi jejak-jejak hidup manusia yang tidak mampu berlari dari tiga rangkaian waktu. Berlari berarti kehilangan makna hidup. Di titik ini tugas manusia mengontemplasikan kisah tersebut.
Buku membicarakan kisah-kisah dalam menggapai cinta yang murni. Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek mengenai perjumpaan dengan Sang Penyelamat dan kasih sayang kepada sesama. Cerita-ceritanya ditulis dengan sangat detail. Setiap cerita sulit ditebak ending-nya.
Salah satu cerpen Memory In Love menceritakan seseorang yang mencurahkan jiwa dan raga untuk Tuhan dengan seting cerita di daerah pemakaman, simbol akhir kehidupan manusia. Dalam pemakaman pula manusia akan mati membawa amal selama hidup, bukan emas atau perak.
Tidak hanya itu, rasa kemanusian kemudian dibangun dalam percakapan anak panti asuhan dan sang suster. Panti asuhan merupakan pekerjaan kemanusiaan yang tidak bisa diukur dengan materi, tetapi kepuasan hati. Di sini, suster tidak hanya mengabdi untuk kepentingan agama atau Tuhan, tetapi harus berjasa untuk kehidupan sesama manusia.
Kepasrahan kepada Tuhan dan kepudulian untuk manusia, disimbolkan dengan lambang salib. Salib tidak hanya bermakna penembusan dosa, tetapi sebagai hubungan manusia kepada Tuhan dan manusia dengan sesama. Yang perlu diingat, apa pun yang dilakukan, harus berlandaskan kepasrahan. Ketika tidak ada kepasrahan, semua tindakan hanya sia-sia.
Tidak hanya itu, kepedulian kepada manusia harus berlandas pada cinta. Judul lain,
Cinta yang diperuntukkan kepada Penghapus Dosa menguraikan seorang biarawati yang dulunya buta, dalam setiap doanya selalu berharap ingin melihat. Dia lalu memasrahkan diri dan jiwanya pada Tuhan. Kemudian doa ini didengar seorang pemuda bernama Alex.
Dalam perjalanan waktu, Alex jatuh cinta kepada suster. Sedangkan Alex sudah punya anak dan keluarga. Cinta yang dibangun dari rasa dalam hati. Cinta yang tidak melihat kekurangan. Cinta yang mengarah kepada Sang Penyelamat. Akhirnya Alex hanya bisa mencintainya dalam diam.
Waktu semakin berjalan dan usai Alex semakin dikoyak waktu akhirnya meninggal. Namun sebelum meninggal dia berpesan agar matanya didonorkan untuk suster. Setelah waktu semakin berjalan, suster selalu berziarah ke makam Alex. Di siang yang cukup terang itu, akhirnya suster dan anak Alex yang tinggal di panti asuhan berjumpa.
Di momen inilah, pembaca akan dibawa dalam dunia rohani ke alam cerita sehingga terbuka setiap kata sampai ingin melahap setiap kata. Banyak lagi cerita dalam buku tentang manusia dan Tuhan. Cerita-cerita yang dibangun selalu disuguhkan dengan cinta kepada Tuhan. Pembaca tidak hanya mendapatkan kisah, tetapi tentang cinta, Cinta Sang Penyelamat.
Diresensi Ngarjito Ardi Setyanto, Mahasiswa Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga
This entry passed through the Full-Text RSS service - if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.
Recommended article from FiveFilters.org: Most Labour MPs in the UK Are Revolting.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar