Minggu, 14 Agustus 2016

Bagus mana, film Laskar Pelangi atau Mimpi Anak Pulau?

Storibriti.com - Tentu happy people masih ingat dengan film Laskar Pelangi yang tayang 2008 silam. Selain mengumbar keindahan alam Indonesia, tepatnya pulau Belitung, film garapan sutradara Riri Riza tersebut juga diisi oleh sederet aktor dan aktris berkualitas. Laskar Pelangi pun berhasil menjadi salah satu film Indonesia terlaris sepanjang masa dengan jumlah penonton mencapai lebih dari 4,6 juta orang.

Kini, mengangkat tema serupa, ada Mimpi Anak Pulau yang mencoba menandingi Laskar Pelangi. Banyak kesamaan antara Mimpi Anak Pulau dengan Laskar Pelangi.

Pertama, Mimpi Anak Pulau memiliki latar belakang yang sama dengan Laskar Pelangi yaitu bagaimana perjuangan anak-anak dari keluarga yang kurang mampu meraih mimpinya.

Kedua, Mimpi Anak Pulau juga menyuguhkan keindahan alam Indonesia, layaknya Laskar Pelangi". Bedanya, kalau Laskar Pelangi menyorot keindahan pulau Belitung maka Mimpi Anak Pulau menyorot keindahan pulau Batam.

Ketiga, baik Mimpi Anak Pulau dan Laskar Pelangi sama-sama diangkat dari kisah nyata. Bila Laskar Pelangi diangkat dari kisah hidup penulis novel Andrea Hirata maka Mimpi Anak Pulau diangkat dari kisah nyata Gani Lasa. Gani Lasa adalah satu di antara tiga sarjana pertama di Batam yang lahir dan besar di pesisir Nongsa, pulau Batam.

Film Mimpi Anak Pulau menceritakan bagaimana Gani Lasa kecil sebagai anak yatim yang hidup dengan segala keterbatasan di kampung pesisir pantai Nongsa, pulau Batam yang jauh dan sepi, tanpa listrik dan tanpa air bersih. Ibunda Gani, Rubiah (diperankan Ananda Lontoh) hanyalah pedagang kue. Meski keadaan ekonomi keluarganya yang tidak memungkinkan, tekad, keberanian dan kemauan Gani Lasa untuk sekolah tetap tinggi.

Ananda Lontoh dan Ray Sahetapy
© 2016 storibriti.com/Abdul Aziz Prastowo

Sama seperti Laskar Pelangi, alur cerita Mimpi Anak Pulau seperti flashback ke masa lalu. Mimpi Anak Pulau mengambil latar belakang tahun 1950-an akhir dan 1960-an awal. Kita bahkan bisa menyaksikan adegan Gani kecil sedang mendengarkan pidato Presiden Soekarno pada hari Pahlawan 10 November 1961 yang sangat terkenal.

"Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia."

Ray Sahetapy
© 2016 storibriti.com/Abdul Aziz Prastowo

Akting Ray Sahetapy memerankan Lasa, ayah Gani, sudah tak perlu diragukan. Sayangnya kita tidak bisa menyaksikan akting Ray hingga akhir film karena di tengah film Lasa digambarkan meninggal karena sakit.

Baca juga

Akting Ananda Lontoh sebagai Ibu Rubiah pun cukup solid. Meski ini adalah film layar lebar pertamanya, pengalaman yang memadai dari membintangi sejumlah sinetron dan FTV terlihat di sini. Kita bahkan bisa mendengar Ananda bernyanyi di dalam film ini.

Ananda Lontoh di konfrensi pers film Mimpi Anak Pulau
© 2016 storibriti.com/Abdul Aziz Prastowo

Meski Ray Sahetapy, Ananda Lontoh, dan sejumlah pemeran pendukung lainnya seperti Herdin Hidayat bukan berasal dari Batam, mereka cukup fasih berdialek Melayu dalam film ini.

Daffa Permana yang ditunjuk sebagai Gani Lasa kecil juga cukup baik meski film ini juga merupakan debut pertama Daffa di dunia akting.

Sama seperti halnya tokoh-tokoh film Laskar Pelangi yang merupakan masyarakat asli Pulau Belitung, Daffa dan sejumlah tokoh pendukung dalam Mimpi Anak Pulau merupakan anak-anak asli Pulau Batam.

Begitu banyak kesamaan antara Laskar Pelangi dengan Mimpi Anak Pulau. Lalu apakah kesuksesan Mimpi Anak Pulau juga akan sama dengan Laskar Pelangi? Kita tunggu saja.


(ru)

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search