Kondisi lorong yang dulu kerap dimanfaatkan para pemain Arseto Solo berkumpul. Bangunan bagian timur itu dulunya merupakan mes untuk pemain yang sudah berkeluarga. Foto : Maksum Nur Fauzan SOLO – Cerita indah mengenai Lapangan Kadipolo terjadi saat tim sepak bola Arseto berpindah ke Solo tahun 1983.
Kala itu, kawasan yang dulunya merupakan Rumah Sakit (RS) Kadipolo itu berubah menjadi mes hingga tempat latihan. Sebagian besar aktivitas Ricky Yakobi dan kawan-kawan pun berkutat di kawasan tersebut.
Dalam perjalanannya, Arseto meraih deretan gelar. Mulai gelar Galatama musim 1991/1992 hingga kejuaraan antarklub Asia Tenggara tahun 1993. Namun kemudian Arseto mengalami masa krisis hingga dibubarkan tahun 1998 atau berbarengan dengan lengsernya Soeharto dari kursi Presiden RI. Sigit Harjojujanto sebagai pendiri dan pemilik Arseto merupakan putra kedua Soeharto dan Siti Hartinah.
Setelah ditinggal Arseto, Lapangan Kadipolo jadi tak terawat. Kawasan yang dulu melahirkan tim juara itu kini berganti melahirkan deretan cerita mistis.
Namun sebetulnya, pengalaman mistis itu pun sudah dirasakan para penggawa Arseto sejak dulu. Katanya, cerita itu kuat kaitannya dengan RS Kadipolo yang dulu berada dikawasan itu.
Hal ini diungkapkan mantan penggawa Arseto Solo, I Komang Putra. Pemain yang berbaju Arseto tahun 1994-1998 itu mengatakan kisah mistis pernah dialami rekan-rekannya. Namun dirinya sendiri mengaku belum pernah mengalaminya secara langsung.
Kru Joglosemar.co saat melihat-lihat bangunan di kawasan Lapangan Kadipolo Solo, Sabtu (6/8/2016) sore. Foto : Maksum Nur Fauzan "Dulu teman-teman ceritanya gitu. Katanya ada yang mengalami langsung yang mistis-mistis. Katanya hubungan sama rumah sakit yang dulu. Tapi saya sendiri untungnya belum pernah," terang Komang kepada Joglosemar, Sabtu (6/8/2016) siang. Komang bercerita, dia menjadi salah satu pemain yang menempati ruang kamarnya seorang diri.
Kala itu, kawasan itu benar-benar tempat paling ideal untuk membangun kekuatan tim sepak bola. Mes pemain terbagi menjadi empat, yakni mes pertama di bagian barat, dekat parkir untuk Agung Setyabudi, Nasrul Kotto dan beberapa pemain lain.
Kemudian ruang besar dibagian tengah untuk pemain yang masih bujang, salah satunya ditempati Komang. Serta ruang bagian timur untuk pemain yang sudah berkeluarga, diantaranya Rochy Putiray dan Miro Baldo Bento. Ada pula satu ruang lain diluar mes untuk pemain Arseto, di bagian utara, untuk menampung pemain Diklat Arseto.
Salah seorang pengelola Lapangan Kadipolo, Joko saat menunjukkan tempat yang dulu digunakan para pemain Arseto Solo kumpul-kumpul. Permainan kartu ala Sumatera kerap dimainkan Miro Baldo Bento dan kawan-kawan. Foto : Maksum Nur Fauzan "Dulu disini (menunjuk tempat di depan ruang timur. Foto diatas,red) sering dipakai buat kumpul-kumpul pemain. Paling sering main kartu. Tapi sekarang dibiarkan begini saja. Karena jarang yang mau masuk sampai ke dalam. Kan biasanya hanya di sekitar lapangan," tutur salah satu pengelola, Joko.
Saat ini, kesan sebagai bangunan angker terlihat lantaran bangunan tak terawat. Bangunan yang dulu difungsikan sebagai mes dibiarkan berdiri, seolah menunggu roboh saja. Joko bercerita, beberapa atap, genteng dan jendela kadang roboh sendiri.
"Kalau jam-jam segini (saat Joglosemar berkunjung pukul 15.00 WIB,red) ya tidak apa-apa. Tapi kalau sore itu hawanya sudah beda. Jarang ada yang masuk sampai ke bangunan timur," tambahnya.
Pengalaman mistis malah langsung dialami Paimin. 33 tahun menjaga kawasan itu, dia mengaku kerap mengalami hal aneh. Satu hal yang tak pernah dilupakannya saat bertemu dengan seorang kiai tua yang muncul dari musala. Kiai itu mendatanginya bersama seorang anak kecil, mendoakan agar dirinya betah berjaga di kawasan tersebut.
"Pak Kiai itu datang dari musala pas saya istirahat. Saat itu, saya minta doa restu agar diberi kelancaran saat berjaga di lapangan ini. Tapi saat saya membuka mata, Kiai tadi sudah hilang bersama anak kecil itu," jelas Paimin.
Semenjak Arseto Solo bubar tahun 1998, bangunan di kawasan Lapangan Kadipolo jadi tak terawat. Terkadang, beberapa atap dan genteng roboh karena termakan usia. Foto : Maksum Nur Fauzan Paimin tak setuju jika tempat itu dikatakan tempat angket. Sepanjang pengalamannya menjaga tempat tersebut, kebanyakan pemain yang mengalami hal aneh merupakan akibat dari kelakuannya sendiri.
"Banyak pemain yang kadang diganggu. Karena mereka tidak sopan dan tidak mengucap salam. Saya selalu nasehati agar para pemain menjaga sikap," lanjutnya.
Tradisi jaga sikap pun ternyata sudah diterapkan sejak era Arseto lalu. Mantan penggawa Arseto, Abdul Hafied Djamado mengatakan para pemain senior selalu mewanti-wanti para pendatang baru untuk jaga sikap.
"Kadang terlalu banyak bercanda, jadi mengalami hal aneh. Kalau ada pemain baru, pasti selalu dikasih tau," tutur Djamado.
Mohammad Isnan | Nofik Lukman Hakim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar