Sabtu, 06 Agustus 2016

Kisah Dibalik Lapangan Kadipolo, Persis Solo Bisa Tiru Pengelolaan Arseto (Bagian 3)

Jalur pintu masih menuju Lapangan Kadipolo Solo. Bangunan besar tersebut dulunya jadi mes pemain lajang dan arena fitnes. Foto : Maksum Nur FauzanJalur pintu masih menuju Lapangan Kadipolo Solo. Bangunan besar tersebut dulunya jadi mes pemain lajang dan arena fitnes. Foto : Maksum Nur Fauzan

SOLO – Cerita kejayaan Arseto Solo tak bisa lepas dari dukungan total pengusaha Sigit Harjojudanto. Putra Presiden Kedua RI, Soeharto itu memberi fasilitas lengkap untuk menjadikan tim yang didirikannya tahun 1978 disegani di Asia Tenggara.

Lapangan Kadipolo di Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan, Solo menjadi gambaran betapa fasilitas Arseto layaknya tim-tim Eropa. Dalam kawasan yang dulunya Rumah Sakit (RS) Kadipolo itu, ada deretan ruang besar yang difungsikan untuk menampung pemain.

Untuk mes pemain, ada empat tipe ruang dengan kondisi berbeda. Ruang pertama di sisi barat, dekat parkir motor digunakan untuk Agung Setyabudi, Nasrul Kotto dan beberapa pemain lain. Ruang besar di bagian tengah untuk menampung pemain muda yang masih jomblo alias belum berkeluarga.

Sementara ruang bagian timur dengan kamar mandi di dalamnya diperuntukkan untuk pemain yang sudah berkeluarga. Serta, ruang di bagian utara yang konon dulunya merupakan kamar mayat ditempatkan untuk menampung pemain Diklat Arseto.

Di sisi selatan ruang mes untuk pemain jomblo, ada ruang fitnes untuk menguatkan otot-otot Ricky Yakobi dan kawan-kawan. Dari semua itu, ada satu lapangan berukuran standar di bagian selatan. Lapangan itu dulunya cukup rata dengan rumput hijau yang tebal. Pasukan Biru Langit, julukan Arseto, dengan nyaman bisa berlatih kapanpun mereka mau.

"Dulu disana (Kawasan Lapangan Kadipolo) lengkap. Mes bersih, lingkungan terawat, lapangan bagus. Pemain bisa konsentrasi untuk persiapan pertandingan," terang mantan Bagian Umum Arseto Solo, Chaidir Ramli kepada Joglosemar, Sabtu (6/8/2016).

Saat masih jadi markas Arseto Solo, lorong ini berisi mes pemain lajang alias jomblo serta ruang fitnes. Tepat diujungnya merupakan tempat latihan dengan lapangan standar. Foto : Maksum Nur FauzanSaat masih jadi markas Arseto Solo, lorong ini berisi mes pemain lajang alias jomblo serta ruang fitnes. Tepat diujungnya merupakan tempat latihan dengan lapangan standar. Foto : Maksum Nur Fauzan

Ada satu tempat di depan mes pemain berkeluarga yang biasa digunakan untuk kumpul Miro Baldo Bento dan kawan-kawan. Ditempat itu, para penggawa Arseto biasanya bersantai setelah lelah berlatih. Ditempat itu pula, anak-anak muda besutan Danurwindo berdiskusi mengenai pertandingan yang akan maupun sudah dijalani.

"Kalau main-main kesana kadang teringat yang dulu. Kumpul sama kawan-kawan. Tapi karena sekarang tidak terawat ya jarang (ke Lapangan Kadipolo). Sebenarnya kalau dirawat seperti dulu lagi, itu komplek yang bagus untuk sebuah tim sepak bola," tutur penggawa Arseto musim 1994-1998, I Komang Putra. Kini, Komang sudah jadi pelatih kiper klub Persis Solo.

Bila bercerita fasilitas, Arseto Solo-Persis Solo bak bumi dan langit. Arseto dengan segala fasilitas yang dimiliki mampu meraih beberapa gelar bergengsi, mulai juara Galatama musim 1991/1992 serta juara antarklub Asia Tenggara tahun 1993. Sebelum itu, Arseto juga juara Invitasi Perserikatan Galatama 1987 dan Piala Liga I tahun 1985.

Persis Solo saat berlatih di area bagian belakang gawang Stadion Sriwedari Solo, beberapa waktu lalu. Foto : Nofik Lukman HakimPersis Solo saat berlatih di area bagian belakang gawang Stadion Sriwedari Solo, beberapa waktu lalu. Persis Solo kerap berlatih di area ini karena tak punya tempat latihan. Foto : Nofik Lukman Hakim

Persis Solo pun sebenarnya pernah merasakan hal yang sama saat dibangunkan Stadion Sriwedari Solo era 30-40an. Tujuh gelar perserikatan mampu disikat Laskar Sambernyawa. Namun, kondisi saat ini sungguh ironis. Meski sudah menjadi klub profesional dengan PT Persis Solo Saestu, nyatanya untuk cari tempat latihan pun Persis Solo kesusahan. Bahkan sering kali tim besutan Widyantoro hanya berlatih di belakang gawang Stadion Sriwedari.

"Kalau bisa ya seperti Arseto, punya lapangan tetap untuk latihan. Kalau masih seperti sekarang, setiap hari bingung mau latihan dimana, harus rebutan sama klub lokal, persiapan tidak akan maksimal. Tim pelatih bingung mau mempersiapkan strategi," harap Komang

Tahun depan, Persis Solo memasang target juara kompetisi Divisi Utama 2017. Harapannya, Laskar Sambernyawa bisa berlaga di Indonesia Super League (ISL) 2018 dan menjadi klub besar seperti Arseto. Sebelum berbicara banyak tentang itu, PT Persis Solo Saestu bersama PT Syahdhana Properti Nusantara selaku penyandang dana hendaknya meniru konsep pengelolaan Arseto.

Mohammad Ihsan | Nofik Lukman Hakim

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar