
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Arief Permadi
KONDISI Gunung Puntang di Kabupaten Bandung sudah lebih baik ketimbang 10 atau 15 tahunan lalu. Dibanding dulu, gunung tersebut sudah jauh lebih hijau. Para petani kopilah, salah satunya, yang membuat paras gunung ini kembali berseri.
AWAL bulan Agustus. Musim panen kopi sudah hampir berakhir. Paras Ayi Sutedja (51) terlihat semringah. Ini panen kopinya yang pertama.
Ayi adalah satu dari ratusan petani kopi yang menggantungkan hidupnya di lahan milik Perhutani di kawasan Gunung Puntang, Kabupaten Bandung. Ketimbang para petani kopi lain di sana, Ayi tergolong masih baru.
"Belum lama. Belum genap lima tahun," ujarnya di sela kegiatannya menjemur kopi di selternya yang sederhana tapi asri di kaki Gunung Puntang.
Selter yang dikelola Ayi berada di ujung Kampung Kolelega, Desa Pasirmulya, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. Dari Jalan Ciapus di Alun-alun Banjaran bisa ditempuh dalam 20 menit. Ikuti saja jalan tersebut, dan hampir pasti tak akan tersesat.
Seperti selter-selter kopi umumnya yang banyak terdapat di Gunung Puntang, fasilitas selter yang dikelola Kelompok Tani Murbeng, tempat Ayi bergabung, juga lumayan komplet. Mulai dari tempat untuk mencuci dan menjemur kopi lengkap dengan dua greenhouse berukuran sekitar 3,5 meter kali delapan meter, bangunan utama untuk tinggal, ruang pulping dan ruang roasting, hingga lumbung kecil untuk menyimpan hasil panen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar