Senin, 15 Agustus 2016

#MerdekaDariMantan, Kisah Kekerasan Saat Pacaran Ini Bikin Haru

Senin, 15 Agustus 2016 13:18

Kapanlagi.com - #MerdekaDariMantan adalah salah satu hal yang harus kalian lakukan jika punya seorang mantan yang ringan tangan alias suka melakukan kekerasan. Baru pacaran aja udah berani mukul atau nampar, gimana kalau sudah nikah? Ada sebuah cerita dari seseorang yang inspiratif dan tegas untuk akhirnya bisa #MerdekaDariMantan. Simak cerita based on true story di bawah ini.

"Namaku Jenny. Sedari kecil aku hidup berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya. Orangtuaku bercerai, sehingga aku lebih banyak menghabiskan waktuku bersama nenek. Beliau mengasuhku di Yogyakarta, di mana semuanya bermula.

Aku diberi kelebihan suara yang indah oleh Tuhan, sehingga aku tak ragu untuk bergabung dengan sebuah band. Kala itu, ketika masih muda dan 'liar', aku menerima tawaran untuk manggung dari cafe ke cafe hingga club malam. Di situ lah aku bertemu Patrick, seorang lelaki tinggi dan tegap, berkulit eksotis dan manis juga. Maklum, ada darah Timur yang mengalir dalam dirinya.

Lewat seorang teman, akhirnya aku berkenalan dengannya yang sudah mencuri perhatianku kala ia datang untuk chilling di club. Entah apa yang merasukiku, aku begitu terpesona dengan Patrick. Matanya indah, berwarna cokelat, hidungnya mancung, dengan brewok tipis di sekitar dagu dan atas bibir. Dia sosok yang sempurna bagiku.

Tak butuh waktu lama buat kami untuk saling mengenal. Tak berapa lama pula, kami jadian. Usiaku saat itu masih 19 tahun. Usia yang labil usai lulus SMA dan memulai perkuliahan. Awalnya, kehadiran Patrick seolah melengkapi hidupku. Dia begitu romantis, perhatian, dan membuatku makin tergila-gila padanya. Ia menggantikan posisi ayahku yang sudah meninggal. Aku merindukan seseorang yang bisa melindungiku, menyayangiku setulus hati.

Namun, segalanya berubah ketika kami sudah jalan bersama sekitar 6 bulan. Saat itu pertama kalinya kami bertengkar. Masalahnya sepele. Hanya karena aku tak bisa bertemu dengannya ketika ia mengaku rindu. Aku harus kuliah di pagi hingga sore hari, dan malamnya aku menyanyi bersama bandku.

Saat jadwalku kosong, aku menyempatkan diri untuk menemuinya di kost. Ia menyuruhku masuk ke kamar, kemudian ia mengunci pintu dan langsung menghempas badanku ke tembok. Ia mencekikku dan mengatakan bahwa jangan pernah menolak apapun yang dia minta.

Saat itu aku ketakutan luar biasa. Perasaanku campur aduk, antara bingung, takut, marah dan kecewa. Aku masih bertanya-tanya, mengapa Patrick bisa melakukan hal itu? Setelahnya, ia juga bersikap biasa saja, seolah tak ada apa-apa. Jangankan minta maaf, ia sama sekali tak menunjukkan rasa bersalahnya.

Ilustrasi kekerasan saat pacaran/©IstimewaIlustrasi kekerasan saat pacaran/©Istimewa

Setelah itu aku merasa sangat ketakutan bertemu Patrick, tapi aku juga tak berani untuk menolaknya. Aku belum berani mengatakan hal yang aku alami kepada salah satu sahabat dekatku, Lucy. Hampir setiap hari Patrick memintaku datang ke kostnya, hingga akhirnya kuliahku sedikit berantakan.

Suatu kali, aku ingat bahwa aku tak bisa begini terus karena aku tak ingin mengecewakan mama dan nenek yang sudah membiayaiku. Aku pun memberanikan diri untuk menolak permintaan Patrick. Seperti dugaanku, ia marah-marah ditelepon dan pertama kalinya mengeluarkan kata-kata kasar.

Aku menangis dan tak mau bertemu dengannya selama kurang lebih seminggu. Ia akhirnya mendatangi rumah nenekku, tempat aku tinggal. Untuk pertama kalinya pula, ia meminta maaf dan menyesal telah memperlakukanku dengan kasar.

Aku terharu. Ternyata, Patrick tak sejahat dan sekasar bayanganku. Aku memaafkan perbuatannya dan memintanya berjanji untuk tak mengasariku lagi. Hidupku baik-baik saja hingga tahun kedua kita bersama. Rasa sayang dan cintaku kepada Patrick makin besar karena ia menepati janjinya. Dengan senang hati, aku mengabadikan namanya sebagai tato pertamaku di punggung. Aku cuek dengan reaksi mama yang mungkin akan memukuli pakai sapu. Demi Patrick.

Aku mulai mencium ketidakberesan kala Patrick mulai jarang menghubungiku dan selalu memberiku izin untuk pergi ke manapun bersama teman-temanku dengan mudah. Saat main ke kostnya, aku membuka komputernya dan menemukan sebuah hidden folder.

Aku memberanikan diri membukanya ketika Patrick tertidur lelap. Entah, aku hanya mengikuti feelingku yang tak enak.Benar saja, jantungku seakan mau copot ketika melihat sederet video tak senonoh Patrick dengan banyak teman wanitanya. Aku rasa dia seorang maniac dan 'sakit'.

Aku membangunkannya dan bertanya apa maksud dari video itu sambil marah-marah. Ia bangun dan terbelalak. Tanpa aku sadari, ia melayangkan bogemnya ke arah pipi kananku. Aku tersungkur ke lantai dan merasakan sakit yang luar biasa di pipi dan rahangku. Mengerang kesakitan saja aku tak bisa. Patrick akhirnya melarikan diriku ke klinik kecil dengan naik taksi. Saat sang suster bertanya ada apa denganku, Patrick pun mengarang cerita indah bahwa aku kecelakaan dan menghantam trotoar.

Rahangku retak dan 3 gigiku lepas. Selama hampir 3 minggu, aku hanya bisa makan makanan cair. Saat itu, Patrick sama sekali tak minta maaf. Aku sakit hati. Kali ini, ia mengasariku lagi dengan efek yang luar biasa dan menyelingkuhiku dengan puluhan wanita lain. Nenek dan mama percaya dengan cerita Patrick, karena aku tak bisa berkata apapun.

2 bulan kemudian, aku memberanikan diri untuk meminta putus. Hancur hatiku rasanya melihat kelakuannya, meski ternyata rasa sayangku lebih besar. Sebuah pot bunga melayang ke arah kepalaku kala aku mengutarakan niatku di halaman kost Patrick.

Aku bahkan tak menyadari bahwa darah sudah mengucur deras dari kepalaku. Aku mendapatkan 6 jahitan dan beberapa memar atas kelakuannya. Seperti biasanya, Patrick mengarang cerita bahwa sebuah dahan pohon yang cukup besar jatuh dan menimpa kepalaku. Aku hanya diam saja.

Aku memberanikan diri untuk bercerita dengan Lucy, sahabatku. Ia marah besar ketika tahu perlakuan kasar Patrick. Ia memaksaku untuk putus, namun aku masih bertahan selama 2 tahun. Total, 4 tahun sudah aku berpacaran dengan Patrick, hingga sebuah kejadian besar membuatku benar-benar yakin untuk putus.

Aku merasa sudah cukup muak dengan perlakuan kasarnya selama 4 tahun ini. Aku masih sayang dan cinta kepadanya, tapi aku tak bisa terus begini. Apa jadinya jika aku hanya pasrah dan akhirnya memilih dia sebagai suamiku? Apakah aku bisa bertahan hampir separuh hidupku dengan perlakuan kasarnya?

Kembali, aku memberanikan diri untuk minta putus . Aku sudah bersiap atas sikap kasar yang akan ia lampiaskan kepadaku. Benar saja, ia menjatuhkanku ke kasur, memukuli sekujur tubuhku hingga aku berpikir aku akan mati. Lucy dan beberapa orang temanku menunggu di luar kost, di dalam mobil. Mereka tak tahu, bahwa aku sudah tak bisa bangun dari tempat tidur.

Lucy memaksa masuk dan melihatku terkapar tak berdaya. Ia membawaku ke dokter dan tak mengizinkanku pulang. Ia tak mau mama dan nenek tahu keadaanku yang babak belur. Aku sempat menelepon mama dan mengatakan jika aku sedang pergi traveling ke Karimun Jawa. Tanpa curiga, mama hanya berpesan agar aku hati-hati dan lekas pulang.

4 hari berselang, Patrick meneleponku dan kekeuh tak mau putus. Namun, ada satu hal yang membuat aku bahagia. Dia bilang akan pulang ke kampung halamannya di Timur sana selama beberapa bulan. Aku lega, akhirnya aku bisa lepas dari dirinya.

Aku sempat mengantarnya ke bandara, ia memelukku dan berkata, 'Sayang, jangan putusin aku.' Aku hanya tersenyum di tengah perihnya hatiku.

Entah apa yang merasuki Patrick, dua minggu pasca pulang kampung, ia meneleponku dari seberang dan berkata bahwa ia mengabulkan permintaanku untuk putus. Aku menangis, antara sedih dan bahagia. Aku masih sayang dia, tapi aku tahu aku tak lagi bisa bersama. Ia minta agar aku tetap menjadi temannya.

Aku menepatinya janjinya hingga kini, hingga akhirnya kita sama-sama menikah. Meski aku menyimpan sebuah kutukan untuknya, akumulasi rasa sakit hatiku, dan ternyata kejadian. Sorry not sorry, Pat."

Seperti kata Lindsay Lohan, 'I realize now you can't stay in a relationship just for love. No woman can be hit and stay with that person if that person isn't prepared to say sorry (Aku sadar jika aku tak bisa bertahan dalam sebuah hubungan demi nama cinta. Tak ada satupun perempuan yang berhak disakiti dan terus bertahan dengan lelaki yang tak berpikir untuk minta maaf)', ketegasan dan keberanian untuk move on adalah sebuah hal yang mutlak ketika kalian terjebak dalam hubungan yang mengandung kekerasan. 

Kalau Jenny bisa, kalian pun harus bisa. Saatnya move on dan #MerdekaDariMantan. (kpl/tch)

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search