by : Priska Zahra
Posted : November 8, 2016

Howard Mark Schultz adalah seorang pebisnis dan penulis asal Amerika Serikat yang lahir di Brooklyn, New York, AS, pada 19 Juli 1953. Selama masa kecilnya, Howard memiliki ayah yang seorang mantan tentara AS. Kala itu, ayahnya hanya berprofesi sebagai sopir truk. Howard lahir dalam keluarga yang terbilang miskin dan kehidupan ekonominya begitu sulit. Ayahnya, Fred Schultz rela membanting tulang dan bekerja keras demi masa depan ketiga anaknya.
Ketika berumur 12 tahun, Howard mendapatkan pekerjaan pertamanya, yakni loper koran. Setelah itu, di umur 16 tahun, ia bekerja di toko yang menjual bulu binatang dan tugasnya meregangkan kulit hewan. Sungguh pekerjaan yang melelahkan untuk Howard. Namun, ia tak berhenti sampai di sana. Demi membuat kehidupan yang lebih baik, Howard berhasil memperoleh beasiswa di Northern Michigan University, AS sampai mendapatkan gelar sarjananya di Bidang Komunikasi tahun 1975.
Setelah lulus, Howard bekerja sebagai sales manager di Xerox selama tiga tahun. Tak lama, ia bekerja lagi di perusahaan Swedia Hammarplast. Di sana, ia bertugas untuk menjual berbagai macam peralatan rumah tangga, termasuk mesin pembuat kopi ke beberapa tempat seperti Starbucks. Nah, dari sinilah, Howard mulai sadar bahwa Starbucks selalu memesan mesin pembuat kopi lebih banyak dibanding tempat usaha lainnya. Howard pun memutuskan menemui pemilik Starbucks yang ada di Seattle, Washington DC, AS.
Awalnya, pendiri Starbucks terdiri dari tiga orang sahabat, yaitu Jerry Baldwin, Zev Siegl dan Gordon Bowker. Kebetulan, ketiganya adalah pencinta kopi dan mencoba ingin berbagi pengalaman mereka dengan membuka kedai kopi kecil. Sayangnya, di akhir tahun 60-an Starbucks sama sekali tidak memperoleh keuntungan, soalnya orang Amerika lebih senang dengan kopi instan dibanding kopi biasa.
Setelah Howard mencicipi kopi Starbucks, ia langsung jatuh hati dengan cita rasanya. Bahkan, ia menganggap kopi ini jauh lebih enak dibandingkan kopi instan. Dari sinilah, Howard berkeinginan untuk melamar pekerjaan di Starbucks. Howard mencoba meyakinkan Jerry Baldwin, bahwa perusahaannya mampu memiliki keuntungan yang banyak. Di hari berikutnya, Howard kembali memohon untuk menjadi marketing director di Starbucks dengan gaji yang lebih rendah dari Hammarplast.
Meski diupah dengan gaji rendah, Howard setuju pindah ke Seattle, AS pada 1982. Di 1983, Howard membawa resep latte dan cappucino dari ilmu yang ia dapat di Milan, Italia. Kedua resep ini membuat penjualan Starbucks meningkat tiga kali lipat. Merasa Starbucks bisa lebih maju lagi, Howard berencana untuk menciptakan konsep baru, namun itu semua ditolak oleh Baldwin. Merasa tak sejalan, Howard keluar dan mendirikan kafe sendiri. Setahun kemudian, Howard mendengar bahwa pemilik Starbucks ingin menjual seluruh kedai kopi, tempat penggilingan kopi beserta brand mereka, dikarenakan mereka kewalahan mengelolanya.
Mengetahui bahwa Starbucks hanya dijual dengan harga US$4 juta (saat ini setara dengan 52,2 miliar rupiah), Howard lalu membelinya. Di 1992, Howard memutuskan membuat Starbucks menjadi perusahaan publik dan memasang saham Starbucks di New York Stock Exchange seharga US$14 (saat ini setara dengan183 ribu rupiah) per lembar. Dalam tempo sehari, harga sahamnya naik menjadi US$33 (saat ini setara dengan 430 ribu rupiah). Sampai saat ini, Starbucks sudah hampir memiliki 10.000 cabang di seluruh dunia. Makanya, tak heran di 2012, Forbes menempatkan Howard Schultz sebagai orang terkaya ke-354 di Amerika Serikat dengan kekayaan bersih US$1,5 miliar atau setara Rp.19,5 triliun. Editor: Fransiska Soraya - Foto: www.chief-time.ru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar