
Di negeri kelahirannya, Indonesia, Said Munir Thalib atau lebih dikenal dengan sebutan Munir masih diselubungi kabut misteri. Bahkan kini, dengan sangat tragis, berkas-berkas penelusuran fakta terkait tewasnya Munir diberitakan hilang. Karena itu, dapat dipastikan, penelusuran kebenaran terkait ini akan semakin sulit. Ibarat menelusuri bagaimana dinosaurus akhirnya punah, begitulah kisah Munir ke depan. Bedanya, kisah dinosaurus punah karena tidak ada saksi hidup, sedangkan kisah Munir "punah" karena enggannya saksi untuk hidup. Logikanya sederhana sekali, tak mungkin Munir tidak dibunuh.
Fakta-fakta sudah banyak mengarah ke situ. Lebih jauh, tidak mungkin sang pembunuh tidak tahu alasan mengapa dia membunuh. Barangkali, seperti kisah-kisah konspiratif yang sering kita tonton di film, sang pembunuh kini diancam atau dikunci mulutnya dengan berbagai bonus dan guyuran fee. Taktiknya seperti intimidasi lunak, berikan ancaman sekaligus tawaran. Walhasil, Munir tetap menjadi teka-teki abadi di negerinya.
Tetapi tidak di Belanda. Tahun lalu, nama Munir diabadikan sebagai nama jalan dan sejajar dengan nama besar, seperti Martin Luther Jr, Mother Teresa, M. Gandhi, dan sebagainya. Tidak mudah membuat nama seseorang menjadi nama jalan. Perlu persetujuan, identifikasi, dan penelitian lebih dalam. Lebih tidak mudah lagi kalau sampai mengabadikan nama seseorang yang bukan dari negaranya. Maka, ketika Belanda mengabadikan nama orang yang bukan dari Belanda, hal ini tentu menjadi sebuah isyarat bahwa Munir bukan orang sembarangan.
James Bond dan Detektif Conan
Dia orang disegani yang sejatinya harus mendapat penghormatan lebih tinggi di negerinya. Pertanyaannya, mengapa Munir justru menjadi "kelinci", bahkan dicoba dihilangkan dari ingatan bangsanya di negerinya? Inilah yang saya sebut tadi sebagai kisah konspirasi, mungkin serupa film James Bond ataupun Detektif Conan. Tentu saja secara universal film itu sangat berkesan dan sangat menyenangkan. Bahkan bagi orang Inggris, film ini merupakan lambang kebanggaan.
Bagaimana tidak, James Bond pada akhirnya selalu menyelamatkan aset negara dari berbagai serangan. Sama halnya dengan James Bond, Detektif Conan pun kurang lebih membicarakan hal yang sama. Lalu, apa relevannya dengan kisah Munir? Bukankah Munir merupakan kisah nyata, sementara Detektif Conan dan James Bond hanya dunia fiksi? Bukankah pula apa yang dipecahkan oleh James Bond dan Detektif Conan adalah hal yang berbeda dengan apa yang akan dipecahkan oleh negara terhadap teka-teki Munir? Betul, mereka adalah kisah yang sangat berbeda. Tokoh dan teknologinya saja sudah berbeda.
Akan tetapi, jika negara benar-benar tidak mau melempar batu sembunyi tangan, kita yakin, kisah Munir tidak seribet masalah yang dihadapi James Bond dan Detektif Conan. Kita yakin pula, kisah ini tidak akan sampai setua ini: hampir 12 tahun tanpa jejak. Celakanya, setelah selama ini, dipastikan karakter mereka yang terlibat dalam "pembantaian" Munir sudah mungkin berbeda. Mereka yang dulu gendut barangkali kini sudah kurus. Atau, mereka yang dulu bugar barangkali sudah mulai oleng.
Bisa saja daya nalar dan ingatannya yang dulu masih kuat, sekarang malah lemot atau sengaja dan pura-pura dilemotkan. Atau, jangan-jangan beberapa dari mereka kini sudah tiada sehingga kumpulan informasi yang sejatinya dapat kita peroleh pun menjadi tiada. Artinya, kisah Munir kini mendesak untuk diselesaikan. Kalau tidak, beberapa tahun ke depan, mereka yang dulu ikut berpartisipasi "membantai" sudah akan tiada pula. Apabila skema ini terjadi, seperti Supersemar yang masih samar-samar, kisah Munir pun akan selamanya menjadi misteri yang samar yang kelak menjadi pudar sehingga generasi penerus akan membacanya sebagai kekejaman negara yang menghilangkan jejak sejarah.
Hal itu semakin tegas karena Munir bukan semata Munir. Dia sudah menggejala menjadi personifikasi dari hilangnya HAM. Dia sudah beranjak pula menjadi masalah internasional. Jadi, Munir bukan semata Said Munir Thalib, bukan semata istri dari Suciwati, bukan pula sekadar ayah dari Alif dan Diva. Di baliknya, ada tubuh dan nyawa yang meregang yang melahirkan ketakutan "massal". Seperti kata Al Araf, pembunuhan terhadap Munir bukan sekadar pembunuhan terhadap abah dari Alif dan Diva, melainkan tindakan amoral yang mencederai kehidupan politik yang demokratis.
Maka, kasusnya tentu harus menjadi agenda prioritas di antara yang prioritas. Benar, barangkali kisah Munir penuh dengan kelam dan bercak-bercak sejarah. Masalahnya, pantaskah kita mencuci bercak-bercak sejarah itu dengan darah-darah anak bangsa? Pantaskah sejarah juga disimpangsiurkan oleh hanya karena alasan kekelaman kisah? Pantaskah negara berdiam diri membiarkan rakyat yang menanti-nanti keterangan sejarah?
Percayalah, sekali saja kita membuka keran untuk menenggelamkan kisah, kita sebenarnya sudah membuka peluang untuk menenggelamkan kisah untuk kedua kali, ketiga kali, dan selanjutnya. Artinya, tidak ada toleransi bagi siapa pun, termasuk negara untuk menenggelamkan sejarah. Semuanya harus serba terbuka. Nelson Mandela mengatakan, We Forgive, but not forgotten.
Peran Heroik dan Protagonis
Nah, atas dasar itulah kemudian kita mendesak agar pemerintah Jokowi-JK sesegera mungkin mengusutnya dan jangan ketinggalan kapal terlalu jauh dari negeri lain, seperti Belanda. Buat jadwal semacam target yang tetap, kapan harus memulai, mendalami, dan mengkahirinya dengan terang. Saya yakin, kisah ini tidak seribet kisah James Bond dan Detektif Conan. Hanya butuh kejernihan hati untuk menuntaskannya.
Di atas segalanya, kita yakin pula, Jokowi-JK adalah sosok yang mendengar rakyat. Memang ada keraguan dan kekecewaan ketika pada akhirnya tim ini malah menempatkan politisi sebagai Kemenkumham dan Jaksa Agung. Hal ini barangkali menjadi "saran" tersirat dari Hendro Priyono, sosok yang masih aktif di BIN ketika Munir "dibantai", yang beberapa waktu lalu menjadi orang penting di Rumah Transisi. Akan tetapi harus digemakan lagi bahwa pengharapan kita pada Jokowi-JK bukan tanpa alasan dan dasar. Jokowi-JK selalu mengastakan, menolak negara lemah.
Maka, setelah Pollycarpus bebas, setelah 12 tahun berlalu, setelah menjelang 18 tahun reformasi bergulir, setelah Belanda menghagai Munir, kita berharap kisah Munir bukan lagi sesuatu yang tabu untuk dibuka sebab suara yang dulu digaungkan Munir bukanlah suara sumbang, melainkan suara kritis.
Dan kita ketahui bersama, suara-suara kritis itu bukanlah ancaman keamanan nasional, melainkan kekayaan pemikiran yang menghidupkan politik itu sendiri. Jokowi-JK tidak perlu setangguh James Bond dan Detektif Conan, tetapi cukup dengan kejernihan hati karena ini tidak semata atas nama bangsa, tetapi juga atas nama kemanusiaan, kehidupan, keterangan sejarah, dan kepastian hukum masa depan! Tegasnya, Munir harusnya mendapat penghargaan setimpal di negerinya. Masalahnya adalah, apa kita mau. Buktinya, berkas yang sudah dicari, bahkan ada tim pencari fakta untuk itu, malah hilang begitu saja. Bukankah ini lucu untuk tidak menyebut menjengkalkan sekaligus tak beradab? ***
RIDUAN SITUMORANG
(Pegiat Literasi di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Medan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar