
Halaman 1 dari 3

GUNUNG TABUR – Keterbatasan fisik bukanlah penghalang bagi setiap orang untuk berkreativitas. Justru, keterbatasan tersebut terkadang menjadi pembakar semangat bagi golongan manusia-manusia yang tak pernah putus asa.
Salah satunya yang dialami Muhammad Saleh, pria berusia sekitar 42 tahun asal Kampung Tasuk, Kecamatan Gunung Tabur, yang mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya.
Kelumpuhan akibat kecelakaan kerja yang menimpa dirinya pada tahun 2002 silam, membuat hidup pria yang lebih akrab disapa Saleh ini berubah total. Karena kelumpuhannya, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya tidur dan makan serta menjalani berbagai macam pengobatan. Baik medis hingga pengobatan kampung.
Di sudut kamar yang tak lebih dari 3 kali 3 meter, banyak kisah yang diungkapkan Saleh. Mulai dari penyebab kelumpuhannya, hingga beberapa kisah dramatis yang dialaminya sejak kelumpuhan tersebut menyerang.
Dulu, Saleh bekerja sebagai salah satu karyawan di sebuah perusahaan, tepatnya di Mahakam Ulu. Tak pernah terbayangkan sebelumnya hari nahas yang menimpa dirinya. Ketika asyik memanjat sebuah pohon, dirinya terjatuh dari ketinggian beberapa meter. Hal itu mengakibatkan tulang belakangnya mengalami cidera dan patah. Hingga akhirnya membuat dirinya tidak mampu menggerakkan seluruh badannya. Termasuk kedua kakinya.
"Kenapa saya bisa sampai lumpuh begini? Ini semua berawal saat saya mencari bibit buah untuk pekerjaan saya. Mungkin memang sudah takdir, saya terjatuh dari pohon dan akhirnya lumpuh seperti sekarang," tuturnya saat dikunjungi beraunews.com, Rabu (08/02/2017).
Kehilangan pekerjaan hingga kehilangan sang istri tercinta, membuatnya sempat tak percaya. Bahkan, menyalahkan keadaan, sempat ia lakukan. Betapa tidak, lumpuh mendadak membuat hidupnya berubah sedemikian rupa.
"Saya sempat frustasi. Setelah saya lumpuh, perusahaan tempat saya bekerja tidak lagi memakai saya. Istri saya pun beberapa waktu setelah kelumpuhan saya, memilih pergi dan meninggalkan saya sendiri," kisahnya.
Kondisi tersebut sempat ia alami hingga beberapa tahun lamanya. Beruntung, ia masih memiliki orang tua yang rela mengorbankan waktu untuk menemani masa-masa sulitnya. Dengan dorongan dan motivasi agar dirinya kembali bangkit dan berdiri, orang tua Saleh terus merawat dan menjaganya dengan sepenuh hati.
"Setiap hari saya diberi motivasi, saya disemangati dan dibantu menumbuhkan kepercayaan diri saya lagi. Yang paling berjasa dalam masa-masa sulit saya adalah orang tua saya. Mereka tulus dan tanpa pamrih merawat saya yang lumpuh," katanya sembari menyembunyikan raut wajah harunya.
Tak punya pekerjaan. Tak punya keahlian. Tak punya kekuatan untuk berdiri melawan kerasnya hidup, membuat Saleh hanya bisa berdiam diri di rumah. Mungkin satu-satunya kegiatan yang saat itu dapat menghibur hati dan pikirannya ialah menonton siaran televisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar