Jumat, 10 Februari 2017

Kisah Pelarian 2 Wanita Irak dari Cengkeraman ISIS

Seorang wanita lain, wanita B, juga menceritakan kisah pelariannya. Kelompok ISIS tidak peduli pada usia korbannya,

"Entah itu seseorang berusia 20 tahun atau 9 tahun, tidak ada bedanya bagi mereka."

"Saya menyaksikan dengan mata sendiri. Berat rasanya membawa beban ini, mungkin bunuh diri akan menjadi lebih mudah."

Sama dengan wanita pertama yang diwawancarai Guardian, wanita ke dua ini juga memberi reaksi suram ketika ditanya tentang permintaan ISIS untuk melakukan hubungan seks.

Wanita B hanya menunduk, menerawang, dengan mata berlinang. Raut mukanya berubah, lalu ia membuang muka. Diam.

Ketika ditanya tentang permintaan ISIS kepadanya untuk melakukan hubungan seks, wajah dua wanita itu mendadak suram. (Sumber The Guardian)

Kemudian, ia juga menceritakan kisah pelariannya.

"Setelah upaya kabur pertama kali, saya ditangkap. Tangan saya diikat dan saya disiksa. Semakin lama semakin berat."

Hukuman dimulai dengan kurungan dalam rumah, seorang diri. Setelah percobaan kabur itu, pemiliknya membawa wanita tersebut ke rumah tempat tinggal keluarganya dan dikurung selama 2 bulan.

"Suatu malam, saya berhasil kabur. Saya lari ke jalan di depan, lalu masuk ke halaman. Di sana, saya memohon perlindungan kepada sejumlah pria."

Mereka menanyakan apakah ia seorang Yazidi. Wanita itu membenarkan, lalu memohon agar tidak diserahkan kepada ISIS.

"Berbekal identitas palsu Arab, saya naik taksi ke Kirkuk. Seorang pria Yazidi menjemput saya dan kami pergi ke pihak berwenang di Erbil."

Dari Erbil, wanita itu pergi menemui Baba Sheikh, seorang pemimpin spiritual Yazidi dan menceritakan apa yang telah dialaminya.

"Saya bertanya apakah saya masih bisa diterima dalam iman Yazidi. Ketika dikatakan bahwa saya kembali menjadi salah satu dari mereka, saya merasa lahir kembali."

Mereka merasa lahir kembali ketika kembali diterima dalam lingkunang Yazidi. (Sumber The Guardian)

Wanita B juga mengungkapkan bahwa ia diminta memeluk Islam, lalu diminta salat dan membaca Alquran.

"Bukan hanya itu, saya harus menghafal Alquran. Begitulah yang diwajibkan, pelajari atau mati."

Tapi, ia merasa bahwa apa yang dilakukan ISIS adalah kesia-siaan, karena "Hati saya terikat kepada iman saya sendiri."

Yang jelas, setelah semua pengalaman itu, ia hingga kini masih terus memikirkan nasib keluarganya yang masih menjadi tawanan ISIS.

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search