
Islam Mitat dari Morocco; Ahmad Khalil, mendiang suaminya, berasal dari Kabul di Afghanistan. Namun, Ahmad pindah ke Inggris dan menjadi warga negara Inggris saat keduanya bertemu di situs kencan Muslima.com.
Islam bermimpi menjadi desainer dan melihat Ahmad yang merupakan warga Inggris adalah jalannya untuk meninggalkan kota kelahirannya di Oujda, Maroko, yang berbatasan dengan Algeria. Berbulan-bulan setelah menjalin hubungan di dunia maya. Keduanya memutuskan menikah. "Kami bertemu di Maroko. Ahmad membawa seorang perempuan yang disebutnya sebagai kakaknya. Dia menjadi saksi pernikahan kami," kenang Islam.
WARGA INGGRIS: Paspor mendiang suami Islam, Ahmad Khalil. (Islam Mitat for CNN)
Islam menambahkan, setelah menikah mereka melakukan perjalanan ke Dubai kemudian ke Jalalabad di Afghanistan untuk bertemu keluarga Ahmad. Mereka hanya sebulan di Afghanistan sebelum kembali ke Maroko.
Sesampainya di Maroko, keduanya kemudian kembali ke Dubai. "Tak lama kemudian, dia mengatakan punya pekerjaan di Turki. Kita akan liburan," katanya mengulang kalimat suaminya itu. Tetapi, liburan itu dirasa Islam sangat aneh. Mereka tidak tinggal di resor atau hotel. Keduanya malah menuju Gaziantep, perbatasan Turki dengan Syria.
Mereka tinggal di rumah yang penuh dengan lelaki, perempuan, dan anak-anak. "Saya bingung. Saya bertanya kepada salah seorang perempuan kemana kita akan pergi. Dia berkata, kita akan hijrah." Saat di Dubai, Ahmad memang berkata punya kejutan untuknya. Tetapi kejutan itu akan diberikan saat berada di Turki. "Dan ini kejutannya. Pergi ke Syria." Saat Islam menolaknya, Ahmad naik pitam dengan mengatakan istri harus patuh kepada suami.
Islam mencoba berbicara kepada pejabat perbatasan saat mereka hendak masuk Syria. Namun, tidak bisa. Bahkan, para penjaga menembaki mereka sehingga masuk kawasan Syria. Islam menyebutkan, begitu sampai di Syria mereka menunju kota Jarablus dan masuk rumah yang penuh orang. Para lelaki yang membawa keluarga itu ternyata bergabung bersama ISIS.
"Mereka berasal dari seluruh dunia. Inggris, Kanada, Prancis, Belgia, Tunisia, Maroko, Tunisia, dan Arab Saudi." Tak menanti lama, Ahmad pun pergi selama sebulan untuk latihan militer dan meninggalkan Islam yang sedang hamil.
Begitu pelatihan selesai, Ahmad langsung ditugaskan untuk perperang. Dia terbunuh di hari pertama di Kota Kobani. Islam sangat takut dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia dilarang berbicara dengan orang Syria lain dan terpaksa tinggal di penampungan tersebut.
Dia kemudian pindah ke rumah kakak suaminya yang juga pindah ke Syria. Namun, saat iparnya terbunuh, ISIS memindahkannya ke guesthouse. Disanalah anak pertamanya, Abdullah, lahir. Saat pejuang Kurdi mendesak ISIS, ISIS mengatakan agar Islam menikah lagi dan keluar ke kawasan yang aman. Dia pun menikah dengan teman mendiang suaminya, Abu Talha Al-Almani.
Mereka pindah ke Manbij, Aleppo, sebelum ke Raqqa, seiring suksesnya Kurdi mendesak ISIS. Setelah sebulan, Islam mereka memutuskan bercerai karena Abu Talha tidak mengizinkan Islam keluar rumah.
Islam pun masuk kembali ke penampungan. ISIS berusaha menahan mereka semua dan menjauhkan kelompok itu dari warga lokal Syria yang bisa membantu mereka lolos. Bila ada orang dalam yang ketahuan membebaskan mereka, hukuman dari ISIS sangat sadis. Mulai membayar denda sampai dihukum mati.
ISIS pun membujuk Islam untuk menikah lagi. Kali ini dia bertemu Abu Abdallah Al-Afghani. Lelaki ini disebut Islam memiliki jiwa yang lembut. Nama itu diberikan oleh ISIS, namun kepada Islam, Abu mengaku keturunan India dan ibunya tinggal di Australia.
Meski propaganda ISIS menggambarkan kehidupan di Raqqa sebagai surga, Islam menyatakan sebaliknya. "Itu seperti mati. Itu bukan hidup," kenangnya. "Saya selalu ketakutan. Selalu mendengar suara bom, senjata, dan penembakkan."
Islam hamil lagi dan melahirkan putri yang diberi nama Maria. Tetapi kehidupan tidak juga membaik dan membuatnya ingin segera keluar Raqqa. Abu sang suami, ditugaskan ISIS untuk berperang di Tabqa dan terbunuh.
Matinya Abu menjadi kesempatan bagi Islam untuk meninggalkan Raqqa. Dia menyimpan kabar kematian suaminya dari tetangga dan rekan. Dia menjual semua barang berharganya dan menggunakan uangnya untuk membayar calo yang bisa membawanya ke penampungan Kurdi YPG. YPG adalah salah satu grup yang sudah melawan ISIS di Syria.
Islam diserahkan ke sana bersama dua anaknya. Abdullah, yang hampir berusia dua tahun dan Maria yang berusia 10 bulan. Sebelum masuk penampungan, ada pejabat intelejen yang menginterogasinya. Mereka sekarang tinggal di rumah singgah di selatan Syria.
YPG sudah menghubungi kedutaan Maroko di Beirut dan menceritakan mengenai Islam. Namun belum ada tanggapan. Ayah Islam berharap raja Maroko, Mohamed VI, bisa membantu mereka dan memulangkan Islam.
Tetapi Islam belum ingin pulang. Dia takut mengenai keamanan anaknya. Dia berharap, bisa mendapatkan paspor Inggris karena ayah anak pertamanya warga negara Inggris. Atau, bisa ke Australia untuk tinggal bersama ibu mendiang suami ketiganya. "Saya tidak tahu kemana saya harus pergi. Hidup saya sudah hancur." (CNN/tia)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar