
PROKAL.CO, SENDAWAR – Tidak hanya harganya yang fluktuatif. Ribuan petani karet di Kutai Barat (Kubar) juga dihadapkan kepada menurunnya hasil getah karet yang ditoreh. Kisah sedih dan pedih ini harus mereka alami, disebabkan puluhan ribu pohon karet sudah tidak produktif lagi, yakni di atas 30 tahun.
"Sudah beberapa tahun terakhir panen getah karet terus-menurun. Biasanya sebulan dapat 100–200 kilogram. Saat ini hanya di bawah 100 kilogram per hektare," kata Madan, petani karet Kampung Sumber Bangun Kecamatan Sekolaq Darat.
Hal senada juga diakui puluhan petani karet lainnya di Kampung Sumber Bangun dan Kampung Sumber Sari, Kecamatan Barong Tongkok. Kini, petani karet dipusingkan dengan fluktuatifnya harga getah karet. Tiga bulan lalu sempat naik Rp 10 ribu per kg. Namun sebulan belakangan turun menjadi Rp 6 ribu per kg.
Petani karet berharap, ada upaya pemerintah mengatasi merosotnya produksi karet. Termasuk menstabilkan harga karet. Sehingga petani karet bisa lebih sejahtera. Sementara harga kebutuhan hidup terus naik. Hasil penjualan getah karet tak mampu menjadikan mereka sejahtera.
Terpisah, Wakil Bupati (Wabup) Kubar Edyanto Arkan membenarkan bahwa produksi karet menurun akibat pohon karet sudah tua atau di atas 30 tahun. Sehingga perlu dilakukan peremajaan pohon karet dengan bibit unggul.
Wabup berharap, agar hasil panen getah karet lebih meningkat. Data perkebunan di Kubar, ada 40.000 hektare perkebunan karet di 16 kecamatan se-Kubar. Apabila satu kepala keluarga memiliki lahan perkebunan karet 2 hektare, berarti ada 20.000 petani yang bergantung hidupnya dari penghasilan perkebunan karet. Sementara sekitar 1.200 hektare dari 40.000 hektare luas lahan karet harus dilakukan peremajaan.
"Untuk target dua tahun ke depan, di mulai 2017 ini ada 100 hektare yang akan dibantu pengadaan pohon karet bibit unggul," ucap Edyanto.
Menurut Wabup, cara ini diharapkan mampu membantu petani karet dan tahun depan atau 2018 akan dibantu lagi pohon karet unggulan. Lantas, mengenai harga karet yang selalu fluktuatif, Edyanto Arkan menyebutkan akan mengoneksikan pabrik karet yang saat ini sedang dibangun di Samarinda.
"Semoga nantinya semua petani karet di Kubar dapat menjual melalui pengumpul dan dijual lagi ke pabrik. Cara ini bisa digunakan sebagai salah satu memutuskan mata rantai jauhnya pengiriman karet ke pabrik di Mojokerto, Jawa Timur, dan Banjarmasin, Kalimantan Selatan," katanya.
Apabila hanya dijual di Samarinda, menurut Edyanto, bisa menekan biaya pengiriman ke pabrik di luar provinsi. Dampak positifnya harga karet yang dibeli pengumpul di Kubar dapat meningkat sampai akhirnya harga karet di petani di Kubar menjadi stabil. (rud/san/k9)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar