Senin, 02 Oktober 2017

Sepenggal Kisah Sebelum dan Sesudah Era Baru 'Si Ular Besi' di Jakarta

JAKARTA - Perkembangan kereta api commuter line sebagai moda transportasi massal masyarakat pekotaan, tak secepat lajunya di atas lintasan rel. Lahirnya PT KAI Commuter Indonesia (KCI) dalam industri jasa angkutan KA Commuter bukanlah tiba-tiba, tetapi merupakan proses pemikiran dan persiapan yang cukup panjang. 

Perseroan ini resmi menjadi anak perusahaan PT Kereta Api Indonesia (Persero) sejak tanggal 15 September 2008. Dimulai dengan pembentukan Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek oleh PT KAI (Persero), yang terpisah dari PT KAI (Persero) Daop 1 Jakarta.

BERITA REKOMENDASI

Tugas utamanya yakni menyelenggarakan pengusahaan pelayanan jasa angkutan kereta api komuter dengan menggunakan sarana Kereta Rel Listrik (KRL) di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) dan sekitarnya serta pengusahaan di bidang usaha non angkutan penumpang.

KCI Memulai modernisasi angkutan KRL pada tahun 2011 dengan menyederhanakan rute yang ada menjadi lima rute utama, penghapusan KRL ekspres, penerapan kereta khusus wanita, dan mengubah nama KRL ekonomi-AC menjadi kereta Commuter Line. Proyek ini dilanjutkan dengan renovasi, penataan ulang, dan sterilisasi sarana dan prasarana termasuk jalur kereta dan stasiun kereta yang dilakukan bersama PT KAI (persero) dan Pemerintah.

Era Baru Commuter Line

Pada 2 juli 2011 merupakan era baru perjalanan KRL Jabodetabek, KRL Express dan Ekonomi AC yang sebelumnya sudah melayani dengan rute-rute tertentu harus digantikan dengan sistem terbaru dari commuter line. 

Sistem terbaru ini menimbulkan kontra bagi para pengguna KRL Express--yang seharusnya pengguna hanya berhenti di stasiun-stasiun besar--kini juga harus mengorbankan waktu yang tak sedikit,  karena harus berhenti di setiap stasiun. Selain itu, sikap kontra bagi pengguna kelas Ekonomi AC yang mengeluhkan kenaikan biaya yang cukup signifikan, dengan segala protes Commuter Line tetap akan menggantikan KRL sebelumnya.

Akan tetapi sikap kontra yang semula muncul dari para pengguna KRL perlahan beralih menjadi cinta. Bagaimana tidak, hingga Agustus 2017, rata-rata jumlah pengguna KRL per hari mencapai 993.804 pengguna pada hari kerja, dengan rekor jumlah pengguna terbanyak yang dilayani dalam satu hari adalah 1.065.522. 

Hal itu menandakan betapa kecintaan masyarakat terhadap commuter line mengalahkan transportasi darat lain. 

Ahmad (36) seorang pengguna commuter line mengaku senang dengan hadirnya transpormasi KRL. Selain sarana-prasarana, dan pelayanan yang lebih baik, tingkat kepedulian antar sesama penumpang pun sangat terasa.

"Tingkat kepedulian sesama pengguna semakin nyata. Sedikit demi sedikit pengguna sadar akan pentingnya toleransi sesama pengguna. Walau dengan catatan masih banyak juga penumpang yang berebut untuk mendapatkan kursi yang kosong, bahkan tidak memberikan kursi yang seharusnya menjadi hak penumpang prioritas," ujarnya saat memuji fasilitas kursi prioritas commuter line, yang diperuntukan bagi penumpang orang tua, wanita hamil, penyandang disabilitas, dan ibu membawa anak.

Pada 1 Juli 2013, KCI mulai menerapkan sistem tiket elektronik (E-Ticketing) dan sistem tarif progresif. Penerapan dua kebijakan ini menjadi tahap selanjutnya dalam modernisasi KRL Jabodetabek. Walau sistem ini jauh tertinggal dari Jepang, tapi dalam kehadirannya lagi-lagi butuh adaptasi yang cukup panjang. 

"Ya, kalau inget dulu sih sumpek juga Mas. Kadang tukang apa aja masuk ke dalam gerbong, belum lagi banyak yang sering kecopetan, terus sering juga yang biasa naik di atap kereta tewas, kadang kesetrum atau jatuh dari atas," lanjut Ahmad.

Peningkatan Signifikan

Sementara itu, Pengamat Transportasi dari Universitas Indonesia Alvinsyah menilai, perkembangan transportasi umum berbasis kereta api commuter line dalam lima tahun ini memiliki peningkatan yang signifikan. 

"Terutama sejak stasiun-stasiun di sterilisasi dan digunakannya transaksi prabayar. Namun, masih perlu penambahan jumlah rangkaian kereta dijam-jam sibuk untuk mengejar layanan minimum tiap 3 menit. Target layanan tiap 3 menit ini saran dari studi di tahun 90-an," sambungnya kepada Okezone, Senin (2/10/2017).

Hingga Agustus 2017, KCI telah memiliki 758 unit KRL, dan akan terus bertambah. Sepanjang tahun 2016, KCI telah melakukan penambahan armada sebanyak 60 kereta. Hal ini untuk memenuhi permintaan penumpang yang terus bertambah dari waktu ke waktu.(fin)

(amr)

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar