Minggu, 04 Februari 2018

Kisah Lengkap Dibalik Kisah Teror Penusukan Ban Massal di Kotabaru

PROKAL.CO, Siapa sebenarnya JL, pemuda berusia 36 tahun yang diduga pelaku teror tusuk lebih 100 ban kendaraan bermotor? UD kakak kandungnya bercerita panjang. Kisah hidup dua kakak adik ini menerbitkan iba.

-----------------------------------------------------

Zalyan Shodiqin Abdi, Kotabaru

------------------------------------------------------

Jumat (2/2) sore tadi, Radar Banjarmasin berkesempatan berbincang dengan UD, kakak kandung JL. UD pria paruh baya kurus tinggi itu dengan sorot mata menyala marah, dia tidak terima adiknya diperlakukan kasar.

"Saya tidak terima, kenapa adik saya dipukul waktu ditangkap itu? Dia kan tidak terbukti melakukan penusukan ban," getir pria lajang ini.

Tukang becak terkenal di pusat kota ini mengatakan, kepala adiknya memar saat warga menangkapnya di seputaran Kompleks Rumah 10, Rabu (31/1) malam tadi. "Saya memang tukang becak saja. Tapi ini kan negara hukum, mereka-mereka itu kan sekolah," ungkapnya kecewa.

UD bercerita, ketika adiknya diburu dan ditangkap warga, dia sedang tidak berada di kos. "Saya biasa di atas jam sepuluh malam baru pulang. Soalnya harus kerja keras cari uang," akunya.

Sudah biasa kata dia, adiknya keluyuran dari malam sampai subuh. Malam kejadian, kata UD, JL sempat minum tuak dengan teman-temannya. Habis minum tuak, JL kemudian jalan-jalan sendiri. "Dia sempoyongan, jatuh di halaman rumah orang. Makanya dicurigai."

Saat ditangkap itulah kata UD adiknya menerima pukulan. Memang tidak terlalu parah. Tapi luka fisik di tubuh adiknya membuat UD meradang. "Belum pernah dia dibegitukan," sesalnya.

Pria yang malang melintang di kehidupan jalanan itu mengaku, baik dia dan adiknya memang sudah biasa menenggak minuman beralkohol. "Tapi itu kan biasa. Mereka pejabat juga ada yang mabuk. Yang penting kan tidak ganggu orang."

Saat mengetahui adiknya diamankan di Polres, dia pun meluncur. Oleh polisi UD diperlihatkan rekaman CCTV yang berisi gambar pelaku teror penusuk ban kendaraan. Diakuinya gambar pelaku di rekaman persis postur adik kandungnya. "Memang mirip sama adik saya. Tapi kan banyak juga yang mirip begitu," tekannya.

Ditanya apa yang membuat dia ragu? UD menjelaskan warna baju pelaku di rekaman. "Kalau di CCTV itu bajunya memang sama, baju hem. Tapi warnanya di CCTV abu-abu, seingat saya dia malam itu pakai baju hem cokelat," akunya.

Apakah JL kurang waras, seperti dikatakan banyak warga? UD tidak menyebut demikian. "Dia itu ganjil orangnya, mulai dari kecil. Tidak seperti orang lain. Suka sendiri, bicara tidak banyak," ungkapnya.

Sejak orang tua mereka meninggal sekitar sepuluh tahun lalu, praktis dia yang menjaga dan merawat JL. Itu juga kenapa UD hingga sekarang masih melajang. "Saya ada kakak perempuan tiga orang, tapi si bungsu ini maunya tinggal sama saya," lirih UD.

Informasi kalau JL pernah masuk penjara karena menusuk orang dengan sajam juga dia benarkan. Begitu juga dengan perilaku JL yang suka mengintip wanita di rumah-rumah penduduk. "Tapi itu biasa kan ya, nakal remaja. Anaknya itu sebenarnya baik, tapi keras."

UD kemudian mengajak Radar Banjarmasin menjenguk JL di kos. Kos mereka ternyata sangat dekat dengan Kompleks Rumah 10. Sebuah bedakan kayu mereka tempati. Di dalam bedakan itu tidak ada barang mewah, terlihat obat nyamuk berserakan dan beberapa pil obat.

JL tertidur di dapur beralaskan papan berlubang. Di ujung kakinya beberapa ember tempat dua kak adik itu menyimpan air. Tidak ada bak mandi atau tempat penampungan air yang besar.

"Dia masih sakit kepalanya. Makanya saya belikan obat," ujarnya seraya memanggil sang adik. Suara UD yang tegas berubah lembut.

Sejenak JL mengangkat kepalanya, tersenyum pada UD dan menatap Radar Banjarmasin. Wajahnya pucat, matanya sayu. Kurus, terkesan tidak merawat penampilan. Rambut gondrongnya tipis, kusut tak tertata. Saat hendak duduk, Radar Banjarmasin memintanya tetap berbaring, karena tubuhnya terlihat lemah.

Tidak ada kata terucap dari JL. Ketika kepalanya kembali dia atas bantal, matanya ikut terpejam. JL memang tidak seperti orang normal. Begitu kesan sepintas yang Radar Banjarmasin dapatkan.

Sang kakak yang sedari tadi tegas, dan sesekali menumpahkan kekesalannya kepada para pelaku pemukulan adiknya, saat itu tampak lebih tenang. Sorot mata dan raut wajahnya memancarkan kesedihan.

UD pelan mengatakan, dia merasa malu foto adiknya sudah viral di sosial media. "Malu saya. Tapi kenapa harus dipukul, buktinya juga tidak ada. Kan bisa diikat saja, baru dibawa ke kantor polisi. Dia juga manusia, sama seperti yang lain," lirihnya.

Ditanya apa keinginannya, UD mengaku agar para pelaku pemukulan sudi setidaknya bertanggung jawab. "Saya tidak mau macam-macam. Cuma tolong saja, saya harus beli obat," ucapnya.

Usai berbincang dengan UD, Radar Banjarmasin menemui Rusdiansyah pemilik mebel di JL Agus Salim. Tukang kayu itu mengatakan, JL pernah kerja di tempatnya. Dia membenarkan, JL tidak seperti normalnya manusia kebanyakan. "Seperti banyak pikiran," ujarnya.

Sementara itu para tukang becak dan tukang parkir yang ditanya semua sama mengatakan, JL pemuda yang patut dikasihani. "Kasihan, tidak normal dia," ujar seorang tukang parkir yang enggan namanya dikorankan.

Penuturan sama juga dikatakan Imi tetangga JL. "Sampean kan wartawan ya, saya cuma mau kasih pendapat. Coba tolong kabarkan ke relasi sampean, pemuda itu butuh bantuan, apakah panti sosial atau lainnya. Kasihan kami lihat kakaknya merawat," ujarnya.

Imi mengatakan, dia sudah mendengar beberapa kawasan sempat menolak JL tinggal di sana. Karena disebut suka mengintip rumah tetangga. "Kalau usir-mengusir itu bukan solusi. Karena dia memang perlu bantuan. Makanya, kami di sini maunya dia dirawat ahlinya," tambahnya.

Seperti telah diberitakan Radar Banjarmasin, dua bukan terakhir ini warga pusat kota dihantui dengan aksi teror tusuk ban. Teror itu diduga berlangsung antara tengah malam sampai dini hari. Sudah lebih 100 buah kendaraan roda dua ditusuk bannya.

Puncak teror terjadi pada Minggu (28/1) tadi. Sedikitnya ada 36 motor di Kompleks Rumah 10 bocor bannya. Ban itu seperti ditusuk dengan benda kecil yang tajam. Tukang tambal ban, Saleh menduga alat yang digunakan sejenis besi kecil dan tajam. Saleh menepis dugaan teror itu disutradarai tukang tambal ban. Alasannya teror sangat kasar dan heboh.

Rabu (31/1) kejadian sama juga di Gang Binjai Kelurahan Baharu Utara. Puluhan motor jadi korban, termasuk empat buah milik Haji Hamsan, pensiunan pegawai Samsat. Aksi pelaku yang selama ini tidak pernah ketahuan akhirnya terekam kamera CCTV Hamsan. Dalam rekaman ciri-ciri pelaku kurus dan berambut gondrong.

Maka kemudian ciri-ciri pelaku menyebar cepat ke warga pusat kota. Malam harinya sekitar pukul 22.00, JL yang kedapatan duduk di halaman rumah warga diburu dan ditangkap. Pasalnya ciri-ciri JL mirip dengan pelaku di rekaman CCTV. Kata warga, beberapa malam sebelumnya JL juga kedapatan berkeliaran sendiri, jam empat subuh memanjat pohon rambutan warga.

Saat ditangkap warga itu JL memang sempat dipukul. "Sempat memang, tapi tidak banyak dipukul. Karena warga banyak juga tahu dia kurang normal," kata warga di sana. Waktu ditangkap tidak ada barang bukti yang mengarahkan JL pada aksi teror tusuk ban.

Karena ribut, polisi pun datang ke lokasi. JL diamankan di Mapolres atas dugaan mengganggu ketertiban umum. Beberapa polisi yang melihat rekaman juga mengatakan, pelaku mirip dengan rekaman CCTV. Mengapa tidak bisa memastikan? Karena wajah pelaku di CCTV tidak terlihat, gelap, kualitas kamera tidak bisa menangkap detail wajah pelaku.

Jumat (2/2) tadi JL dibebaskan. "Tapi kami akan koordinasi dengan Pemkab, supaya JL ditangani. Karena dari pengamatan kami, dia kurang waras," ujar Kapolres Kotabaru AKBP Suhasto melalui Kasat Reskrim AKP Suria Miftah Irawan.

Sementara itu warga mengaku jika memang JL pelakunya, aksi itu dimaafkan. "Kalau memang dia pelakunya ya sudahlah. Kasihan juga, dia memang kurang waras," ujar aktivis wanita Saniah Mahrita yang dua buah kendaraannya sempat juga kena tusuk. Sekadar diketahui, aksi teror tusuk ban berada di radius tiga kilometer, jika rumah bedakan JL sebagai titik tengahnya. (by/ran)

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search