Selasa, 23 Agustus 2016

Kisah Nelayan Berhasil Selamat dari Ganasnya Hempasan Badai

SABANG - Ridwan, seorang nelayan tradisional asal Kecamatan Sukajaya, Sabang, Aceh, berhasil selamat dari hempasan badai yang terjadi di perairan ujung barat Indonesia itu.

"Boat saya bersama isinya tenggelam dihempas badai dan syukur Alhamdulillah, Allah masih menyelamatkan nyawa saya," kata dia di Desa Jaboi, Sabang, Aceh, Selasa (23/8/2016).

Bermodal boat kayu (tek tek) 5 Gross Tonage (GT), mesin 23 gerbok, Ridwan saban hari mengarungi ganasnya Selat Malaka dan Samudera Hindia.

Pria yang umurnya sudah berkepala enam itu melaut seorang diri dan bermalam sampai satu pekan di area Pulau Tempurung (Rondo) yang berjarak sekira 30 mil laut dari lepas pantai Pulau Weh.

Adapun Pulau Rondo ialah salah satu pulau terluar paling ujung barat Indonesia secara teritorial pulau tersebut masuk dalam Kota Sabang, Provinsi Aceh. Kota Sabang sendiri meliputi lima (5) pulau yakni, Pulau Weh, Klah, Seulako, Rubiah dan Pulau Rondo.

"Saya melaut pada tanggal 13 Agustus dan tanggal 19 Agustus saya pulang, dua mil dari Pulau Tempurung muncullah badai disertai gelombang besar yang mencapai lima meter menghempas boat tersebut bersama isinya," cerita Ridwan.

Katanya, boat ia tumpagi seorang diri itu dalam sekejap melungkup dan kembali terapung di atas permukaan laut dengan perlahan ia berusaha merapat ke boat tersebut untuk mendapatkan perlindugan awal.

"Saya mengapung dalam badai itu hampir dua jam dan syukur Alhamdulillah boat nelayan Banda Aceh yang ditumpangi Ucok menyaksikan kejadian itu dan memberikan pertolongan kepada saya," ujarnya.

Sebagaimana biasanya Ridwan melaut seorang diri tanpa ada boat lain, tapi hari itu ada boat nelayan Banda Aceh yang pulang beriringan dari area Pulau Tempurung.

"Semua isi boat ikut tenggelam dalam ganasnya badai itu dan kerugiannya ditaksir mencapai Rp50 jutaan," katanya lagi.

Ia mengakui, separuh usianya berprofesi sebagai nelayan dan ia menafkahi istri serta anak-anaknya dari hasil melaut dan dalam kurung waktu sebulan ia melaut empat kali.

"Sudah lebih tiga puluh tahun saya melaut dan syukur Alhamdulillah lima orang anak saya sudah menyelesaikan pendidikan sarjana dan yang terakhir sedang sekolah di pelayaran," tuturnya.

Kejadian pilu ini baru pertama kali ia rasakan, dan Ridwan menitipkan pesan kepada semua masyarakat nelayan agar tetap berhati-hati ketika melaut serta tidak ria dan sombong selama berada di laut.

"Saya istirahat dulu beberapa hari ke depan dan saya berharap perhatian dari pemerintah dan sudi kiranya memberikan bantuan boat untuk modal utama saya menafkahi keluarga," harapnya.

Panglima Laut Wilayah Jaboi, Hamdan mengatakan, kepada semua masyarakat nelayan diharapkan tidak melaut seorang diri serta melihat kondisi laut jika cuaca tidak bersahabat alangkah baiknya tidak melaut demi keselamatan.

"Yang terpenting adalah memperhatikan keselataman saat melaut dan Ridwan menjadi contoh serta pelajaran bagi kita semua dan jika melaut hendaknya memberitahu kepada nelayan lainnya," katanya.

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search