Sabtu, 08 Oktober 2016

3 'Kota Emas' Penuh Harta Karun yang Hingga Kini Masih Misterius

Liputan6.com, Jakarta - Pada Abad ke-15, Age of Discovery atau zaman penemuan dimulai di Eropa. Kekaisaran Spanyol dan Portugis, para raksasa laut, membiayai ekspedisi pelayaran menyeberangi samudra, untuk menemukan apa yang mereka sebut sebagai Dunia Baru (New World).

Salah satu tujuan penjelajahan samudra adalah untuk mengumpulkan pundi-pundi harta. Pertemuan dengan sejumlah penduduk lokal memunculkan banyak legenda tentang peradaban besar yang punah atau tersembunyi, yang konon meninggalkan warisan berharga yang belum terjamah. 

Pencarian pun dikerahkan untuk menemukan sejumlah kota yang konon menyimpan kekayaan yang berlimpah, terutama emas.

Namun, pencarian besar-besaran tersebut berakhir dengan kegagalan. Tiga kota yang diyakini dibangun dari emas tak pernah ditemukan, bahkan hingga kini ketika teknologi jauh lebih maju dari masa lalu.

Berikut kota emas peninggalan peradaban masa lalu yang hingga kini masih jadi misteri:


1. El Dorado

Sebuah mitos menuntun para petualang dan pemburu harta rakus dari Eropa menempuh perjalanan panjang menembus hutan, mendaki gunung liar di Amerika Selatan. Bahkan tega membantai penduduk asli dan memporakporandakan budaya serta sistem kepercayaan lokal: El Dorado.  

El Dorado konon adalah sebuah kota kaya raya yang terbuat dari emas, bahkan tubuh rajanya diselimuti serbuk emas.

Diawali penjelajahan Columbus di Amerika pada 1492, kisah dunia baru yang kaya logam mulia itu tersebar ke Eropa, mengundang lebih banyak penakluk Spanyol berdatangan, mengikuti hawa nafsu penaklukan dan mengeruk harta.

Benar, banyak emas ditemukan di sana. Namun, temuan arkeolog baru-baru ini menyebut, seluruh perjalanan bangsa Eropa menemukan sebuah kota emas, sia-sia. Sebab, El Dorado bukan tempat melainkan orang.

Salah satu dasarnya adalah mitos asli bangsa Amerika Selatan yang menyebut  El Dorado sejatinya bukan lokasi melainkan seorang penguasa yang saking kayanya menutup dirinya dengan emas, dari kepala hingga ujung kaki setiap pagi, dan mencucinya di danau suci tiap malam.

Kisah nyata tersebut perlahan dikuak satu-persatu, mengkombinasikan teks kuno dan riset arkeologi terbaru.

"Itu kisah ini adalah ritus upacara yang dilakukan masyarakat  Muisca yang tinggal di kawasan Kolombia Tengah pada tahun 800 Masehi," kata Dr Jago Cooper, kurator Amerika di British Museum, seperti dimuat BBC.

El Dorado. (foto: geek.com)


Kisah ini lalu ditulis ulang oleh orang Spanyol di awal Abad ke-16, Juan Rodriguez Freyle. Dalam tulisannya, "The Conquest and Discovery of the New Kingdom of Granada" terbit tahun 1939,  Freyle menceritakan, saat pemimpin Muisca  meninggal, dipilihlah penggantinya--biasanya kemenakan lelaki mendiang.

Melalui proses inisiasi yang panjang, upacara pelantikan berakhir di sebuah danau suci. Belakangan diketahui, danau itu adalah Danau Guatavita, di Bogota, Kolombia.

Pewaris itu lalu ditelanjangi, tubuhnya ditutupi dengan lumpur dan emas bubuk.  "Lalu warga melempar persembahan untuk para dewa, berupa benda berharga seperti emas, zamrud, dan benda berharga lain ke danau."

Kisah ini diperkuat temuan arkeolog yang mengungkapkan keterampilan luar biasa dan skala produksi emas di Kolombia pada saat kedatangan bangsa Eropa pada 1537.

Namun, dalam masyarakat Muisca, emas, perak, dan tembaga dicari, bukan karena nilai materinya, tetapi lebih untuk alasan religius. Emas bukan pertanda kemakmuran.

"Untuk rakyat Muisca hari ini, seperti halnya bagi leluhur kami, emas tidak lebih dari sekadar persembahan ... emas tidak mewakili simbol kekayaan bagi kami," kata keturunan Muisca, Enrique Gonzalez.

Sikap itu berbeda dengan rakyat Eropa yang melihat emas sebagai simbol kekayaan, juga kekuasaan.  

1 dari 3 halaman


Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search