Selasa, 21 Februari 2017

Kisah transplantasi wajah dengan bantuan cetak 3D

Wajah baru Andy Sandness, 31 tahun, pria asal AS yang mukanya hancur akibat percobaan bunuh diri.
Wajah baru Andy Sandness, 31 tahun, pria asal AS yang mukanya hancur akibat percobaan bunuh diri.
© Charlie Neibergall /AP Photo

Setelah sepuluh tahun berlalu, melibatkan tim medis beranggota 60 orang, dan durasi operasi 56 jam, seorang pria berusia 31 tahun asal Amerika Serikat akhirnya bisa memiliki wajahnya kembali, walau tidak sempurna. Andy Sandness mengalami kesuksesan medis yang dapat dikatakan membuat hidupnya kembali normal.

Dilansir dari Stat News (17/2), pada Desember 2006, Sandness, yang saat itu berumur 21 tahun, berada dalam kondisi sangat tertekan dan tidak bahagia. Ia merasa hidupnya sudah berakhir. Tanpa berpikir panjang ia mengambil senapan dari lemari, meletakkan laras di bawah dagunya dan menarik pelatuk.

Ternyata Sandness tidak tewas dan langsung sadar telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya.

"Tolong, tolong jangan biarkan aku mati! Aku tidak ingin mati!" ucapnya memohon ke polisi yang tiba di tempat kejadian.

Setelah itu Sandness sempat dirawat di dua rumah sakit yang berbeda sebelum akhirnya ditangani di Mayo Clinic di Minnesota. Di klinik itu ia bertemu dokter bedah plastik, Dr Samir Mardini.

Di tangan Dr Mardini, wajah Andy disembuhkan tetapi tidak dapat kembali ke bentuk wajahnya semula. Setelah delapan kali operasi selama empat setengah bulan, Sandness akhirnya bisa kembali ke rumah dan kembali bekerja.

Kondisi wajahnya saat itu dapat dikatakan mengerikan karena bentuk yang tidak normal. Ia kehilangan rahang, gigi, dan hidung, hanya menyisakan dua gigi. Mata kirinya juga kehilangan kemampuan untuk melihat.

Agar dapat memasukkan makanan, dibutuhkan selang khusus. Hal ini karena mulutnya saat itu berukuran sangat kecil, tidak muat untuk memasukkan sendok. Dalam hal pernapasan juga dirinya menggunakan hidung palsu yang mudah copot sehingga dalam kesehariannya ia harus membawa lem untuk merekatkan kembali.

Sandness menjelaskan bagaimana dia menghindari kontak mata dengan anak-anak agar tidak membuat mereka ketakutan. Ia pun menjadi tidak memiliki kehidupan sosial.

Kemudian pada 2012, Dr Mardini memberitahu Sandness bahwa Mayo Clinic memiliki rencana untuk meluncurkan program transplantasi wajah, dan dirinya mungkin menjadi subjek sempurna untuk hal itu.

Walau mengetahui akan menghadapi banyak risiko dan kemungkinan komplikasi, Sandness berani menerimanya.

Ia lalu menjalani evaluasi kejiwaan dan sosial yang serius dan intens untuk menentukan apakah langkah ini cocok untuk dirinya sehingga membantu kesuksesan program tersebut.

Sandness kemudian resmi masuk ke daftar tunggu Organ Sharing pada Januari 2016.

Dalam waktu lima bulan, barulah donor tersedia. Calen "Rudy" Ross yang berumur 21 tahun meninggal dengan menembak kepalanya.

Ross dipilih karena memiliki jenis darah dan jaringan yang sama dengan Sandness, ukuran tubuh yang kurang-lebih sama, perbedaan usia tidak lebih dari 10 tahun, dan warna kulit yang mendekati sama.

Istri Ross yang tengah mengandung, Lily, sempat keberatan karena takut terbayang wajah suaminya. Namun akhirnya ia setuju untuk mendonorkan bagian wajah sang suami agar bisa bercerita kepada sang anak bahwa ayahnya telah berjasa menolong orang lain.

Selain itu, tim dokter juga mengatakan kepada Lily bahwa Sandness setelah transplantasi tidak akan persis sama seperti almarhum suaminya.

Tim dokter menghabiskan sehari penuh untuk mengumpulkan semua tulang, otot, dan kulit dari donor. Kemudian sisa waktu yang ada dihabiskan membangun kembali wajah Sandness dari mata ke bagian bawah.

Lebih dari 32 jam, tim dokter akhirnya mampu untuk melakukan transplantasi hidung, pipi, mulut, gigi, bibir, rahang, dan dagu ke Sandness. Usai operasi, ia tidak diizinkan untuk melihat bayangannya di cermin hingga tiga minggu setelahnya.

Ketika diperbolehkan bercermin, Sandness mengaku sangat bahagia. Momen ketika berada di dalam lift dan seorang anak kecil melirik kepadanya tanpa rasa kaget, menurut Sandness, belum pernah terjadi sebelumnya.

Setelah melakukan prosedur transplantasi, Sandness juga telah kembali memiliki kemampuan untuk mencium, bernapas, dan makan, yang tidak bisa ia lakukan secara normal sebelum transplantasi.

Sandness saat bercermin untuk pertama kalinya
Sandness saat bercermin untuk pertama kalinya
© Charlie Neibergall /AP Photo

Manfaatkan teknologi percetakan 3D

Tim dokter di Mayo Clinic memanfaatkan teknologi 3D untuk dapat merekonstruksi ulang wajah Andy Sandness, seperti dilansir dari 3D Printing Industry (20/2).

Proses transplantasi wajah sangat langka dilakukan dalam dunia kedokteran. Hal ini karena kompleksitas struktur saraf wajah, dan ketersediaan donor. Dalam kasus Sandness, bahkan tantangan yang dihadapi lebih besar. Transplantasi membutuhkan rekonstruksi penuh hampir semua jaringan di bawah matanya.

Berlatih dengan menggunakan model pencetakan 3D menjadi sangat penting untuk kesuksesan proses transplantasi.

"Menggunakan teknologi pemodelan, pencetakan, dan perencanaan operasi virtual 3D sangat menguntungkan," jelas Dr. Mardini.

"Mereka memandu kami dengan tepat, di mana tulang yang kami potong, memberikan lokasi pemotongan yang persis, sudut pemotongan yang tepat. Jadi, ketika kami mengambil wajah sang donor dan memasangnya pada si penerima, wajah itu akan terpasang sempurna."

[embedded content]
Mayo Clinic's First Face Transplant: The Surgery
© Mayo Clinic

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search