Senin, 24 April 2017

KISAH Peternak Lebah Madu Kudus Menggembala hingga Jabar dan Ujung Jatim

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Pada bulan November hingga Mei, peternak lebah madu di Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus mengalami masa-masa sulit. Terkadang, mereka harus menggembalakan ternak lebah hingga keluar kota, bahkan hingga ke ujung timur pulau Jawa, Banyuwangi, guna mencari pakan berkualitas.

‎Puluhan kotak kayu, dengan panjang sekitar 50 centimeter (cm), lebar 40 cm, dan ketinggian 20 cm, tampak berjajar rapi di sebuah kebun yang rindang, di Desa Kandangmas, Minggu (23/4). Kotak-kotak kayu tersebut berfungsi sebagai sarang lebah, atau sering disebut sebagai stup.

"Tiap satu stup terdapat satu ratu lebah, dengan diikuti oleh ribuan lebah pekerja‎," kata seorang anggota Perkumpulan Perlebahan Jawa Tengah (PPJT) Cluster Kandangmas, Suyono.

Peternak lebah madu di Kandangmas, melihat stup (kotak tempat lebah) yang digembalakan di sekitar desa tersebut.
Peternak lebah madu di Kandangmas, melihat stup (kotak tempat lebah) yang digembalakan di sekitar desa tersebut. (Tribun Jateng/Yayan Isro Roziki)

Disampaikan, di Kandangmas terdapat sekitar 30 peternak lebah madu. Satu peternak rata-rata memiliki 25 - 280 stup. "Selain Kandangmas, beberapa desa di sekitar juga terdapat beberapa peternak lebah. Antara lain di Desa Tergo dan Glagah," ujarnya.

Menurut dia, modal untuk memulai ternak lebah madu cukup besar. Disebutkan, untuk satu stup rata-rata membutuhkan modal sekitar Rp 1,3 juta - Rp 1,5 juta. Itu untuk kotak dan ratunya. "Harga segitu untuk ratu kualitas satu atau kualitas dua, yang didatangkan dari Tiongkok. Kalau ratu lebah lokal sebenarnya harganya jauh lebih murah, tapi tak berumur panjang, dan kualitasnya kurang bagus," kata Suyono.

Selain untuk membeli stup beserta ratunya, modal lain yang cukup besar adalah untuk alokasi pakan. Pada masa seperti ini peternak harus mengeluarkan modal cukup besar‎ untuk mendapatkan pakan lebah.

Menurut Suyono,‎ pada sekitar bulan November - Mei, adalah masa paceklik bagi peternak lebah madu, khususnya di sekitar Kandangmas. "Pada bulan-bulan itu, lebah harus diberi pakan tepungsari, yang berasal dari bunga tumbuhan tertentu. Biasanya yang bagus dari buah kelengkeng atau randu," ucapnya.

Dikatakan Suyono, guna mencari pakan berkualitas bagus, seringkali peternak harus menggembalakan lebah hingga luar kota. Bahkan hingga ke luar wilayah Provinsi Jawa Tengah.

"Menggembala ke timur, yang paling jauh pernah hingga ke Banyuwangi, Jawa Timur. Sementara, ke arah barat sampai ke Subang, Jawa Barat. Di tempat penggembalaan bisa berminggu-minggu," tuturnya.‎‎

Stup-stup berisi ratu dan lebah pekerja, jelas dia, diangkut menggunakan truk ke tempat tujuan.‎ Kendaraan berangkat pada sore hari, dan harus tiba di tujuan sebelum siang. "Kalau kepanasan, nanti ratunya mati. Jika ratunya mati, lebah pekerja juga bertumbangan," kata dia.

Jika tak mendapat tempat penggembalaan yang memadai, saat masa paceklik petani harus menyediakan gula, sebagai pakan lebah. Menurut dia, satu stup membutuhkan sekitar 4 - 6 kilogram gula/bulan. "Bisa dibayangkan, berapa biaya yang harus dikeluarkan‎. Saat masa paceklik peternak bisa mengeluarkan modal hingga ratusan juta," akunya.‎

Masih menurut Suyono, peternak ‎lebah di sekitar Kandangmas biasanya mulai memasuki masa panen pada bulan Juni hingga November. Pada masa itu, jika hasil panen sedang bagus, peternak bisa meraup untung hingga ratusan juta. "Kalau tak beruntung, bahkan tak cukup untuk mengembalikan modal yang telah dikeluarkan," ujarnya.

‎Dia berharap, peternak lebah bisa mendapat bantuan permodalan. Sehingga, peternak dapat mengembangkan usahanya secara maksimal.

Terpisah, Kepala Desa Kandangmas Shofwan mengatakan potensi pohon randu di wilayahnya, untuk pakan ternak lebah, sudah mulai berkurang. "Pohon randu sudah banyak berkurang, sehingga peternak kesulitan menggembalakan lebahnya di sini," ujarnya.

‎Sementara itu, Camat Dawe Eko Budhi Santoso mengatakan ia mendapat masukan dari asosiasi peternak lebah, agar ke depan area sabuk hijau di Bendung Logung, ditanami pohon randu Kamboja. Menurut dia, keunggulan randu Kamboja adalah bisa berbunga dua kali dalam setahun. "Ya usulan itu kami tampung, nanti kami sampaikan ke pihak berwenang yang terkait," ujarnya. (tribunjateng/yayan isro roziki)

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search