PADA akhir abad 19, tidak ada warga Inggris yang tidak mengenal sosok David Livingstone. Selain menjadi perintis misionaris di bidang medis, Livingstone juga terkenal sebagai pahlawan nasional yang tidak takut untuk berekspedisi di wilayah belantara Afrika yang belum terpetakan.
Ia juga terkenal karena berbagai temuan ilmiahnya di bidang geografi dan geologi serta kampanye selama hidupnya melawan perbudakan. Terkait eksplorasinya di Afrika, Livingstone tercatat pernah empat kali mengadakan ekspedisi panjang ke benua hitam tersebut.
BERITA REKOMENDASI
Sebagaimana dikutip Vintage News, Rabu (17/5/2017) selama empat ekspedisinya itu, Livingstone berhasil menjadi orang Barat pertama yang berhasil menemukan Air Terjun Victoria di Zambia, Danau Ngami di Botswana, dan Danau Malawai yang membentang dari Malawi, Mozambik hingga Tanzania.
Cita-cita utama Livingstone di setiap ekspedisinya adalah untuk menemukan sumber utama Sungai Nil. Akhirnya ia memutuskan bahwa ekspedisi keempatnya difokuskan untuk menelusuri sungai tersebut demi mencari sumbernya. Memulai ekspedisi keempat tersebut pada Januari 1866, Livingstone ditemani sejumlah kru yang ia sewa serta mantan budak yang ia bebaskan di ekspedisi sebelumnya, Chuma dan Susi.
Namun ekspedisi tersebut tidaklah mudah, Livingstone dihantam sejumlah rintangan. Ia bahkan menderita sakit parah sepanjang perjalanannya, termasuk kolera dan bisul-bisul di kakinya.
Pada1869, penyakit-penyakit yang diderita Livingstone semakin melemahkannya tapi hal tersebut tak menghentikan langkahnya untuk menelusuri Sungai Nil. Sayangnya, justru bukan penyakit yang meruntuhkan tekad Livingstone namun pengalaman mengerikan pada Juli 1971 ketika ia menyaksikan langsung lebih dari 400 budak dibunuh oleh majikannya.
Pemandangan itu menghancurkan semangatnya dan membuatnya patah arang di Afrika selama dua tahun. Melihat kondisi Livingstone yang mengenaskan, banyak krunya yang meninggalkan sang penjelajah.
Livingstone mengembuskan napas terakhirnya pada 1 Mei 1873 di usia 60 tahun. Ia menderita pendarahan dalam fatal akibat malaria serta disentri. Hanya Chuma dan Susi yang terus menemani Livingstone hingga ajal menjemputnya. Keduanya kemudian mengadakan prosesi ritual penguburan terhadap jenazah Livingstone.
Chuma dan Susi memotong jantung Livingston dan menguburkannya di dekat pohon Baobab besar.
Jenazah Livingstone pun dipindahkan ke Inggris dan dimakamkan di Westminster Abbey. Saat ini di lokasi tempat jantungnya dikuburkan telah berdiri tugu peringatan yang bernama Livingstone Memorial untuk mengenang perjuangannya dalam pencarian sumber Sungai Nil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar