PIDATO resmi kenegaraan pertama di hadapan Kongres, dimanfaatkan betul-betul oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald John Trump, untuk mengangkat isu tentang Korea Utara. Pria asal New York itu juga menyebut nama seorang pembelot Korea Utara, Ji Seong-ho, dalam pidatonya tersebut.
BACA JUGA: Pidato Kenegaraan Trump Penuh Klaim Keberhasilan
Ketika nama sang pembelot disebut, tepuk tangan meriah membahana di seluruh Capitol, Gedung Kongres AS. Ji Seong-ho lantas membalas sambutan itu dengan mengayunkan tongkatnya. Pria berkacamata itu kehilangan kaki dan tangan sebelah kirinya dalam sebuah kecelakaan di Korea Utara.
"Pada 1996, Seong-ho adalah seorang bocah yang kelaparan," ujar Presiden Donald Trump seraya memperkenalkan sosok Ji Seong-ho, mengutip dari BBC, Kamis (1/2/2018).
Sebagaimana diketahui, bencana kelaparan melanda Korea Utara pada dekade 1990. Ji Seong-ho saat itu sedang berupaya mencuri batu bara dari sebuah gerbong kereta barang. Hasil tambang curian itu akan dijualnya demi membeli makanan.
Seong-ho berhasil memanjat ke dalam gerbong, tetapi kehilangan kesadaran karena rasa lapar yang menderanya. Ia terbangun ketika sudah tergeletak di rel. Celakanya, kereta api bergerak hingga melindas anggota tubuhnya. Seong-ho berhasil bertahan hidup tetapi harus kehilangan tangan dan kaki kirinya yang diamputasi.
Ji lalu dibawa ke rumah sakit terdekat dan menjalani operasi tanpa dibius. Operasi tersebut berlangsung selama 4,5 jam. Ia pernah menceritakan pengalaman tersebut kepada media Inggris, The Guardian, pada 2014.
"Saya berteriak sekencang mungkin hingga terdengar seperti sedang menyaksikan film aksi di bioskop. Tetapi orang-orang tidak ada yang menolong," ujar Ji Seong-ho.
Kondisi yang semakin parah di bawah rezim Kim Jong-il memaksa Ji Seong-ho untuk menyeberang ke China pada 2000. Ia rela menembus hutan dengan berjalan kaki meski harus disangga dengan tongkat kayu. Ia sempat kembali ke Korea Utara tetapi kemudian ditangkap, dan disiksa di dalam penjara.
Ji Seong-ho kembali membulatkan tekad untuk keluar dari penderitaan pada 2006. Bersama saudaranya Ji Cheol-ho, Seong-ho berusaha lari dari Korut secara permanen. Keduanya menyeberang ke China lewat Sungai Tumen dan kemudian berpisah karena Ji takut kondisinya sebagai seorang difabel justru menghambat pelarian tersebut.
Sebelumnya
1 / 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar