Judul : O
Penulis : Eka Kurniawan
Penerbit : Gramedia
Tebal : 470 halaman
Cetakan : Pertama, Maret 2016
ISBN : 9786020325590
Pengambilan tokoh sentral bernama O yang berwujud monyet jelas memiliki makna tersendiri yang hendak disampaikan novel ini. Biasanya cinta monyet diartikan sebagai abal-abal, tidak serius, dan sekadar main-main. Dalam buku ini cinta monyet bernama O kepada kaisar dangdut, Entang Kosasih, justru membawa dampak besar berupa evolusi makhluk hidup.
Novel ini menyuguhkan kisah dengan nada sindiran, akan potret sebuah kehidupan pinggiran Jakarta di tengah derasnya laju kehidupan urban yang tak terperikan. Mereka yang tinggal di pinggiran kota, terperangkap antara rural dan urban seperti O yang berwadag monyet, namun berperilaku seperti manusia.
Terdapat dongeng bahwa di Rawa Kalong, nonyet bisa berubah menjadi manusia. Demikian juga dulu ikan dapat berubah menjadi monyet. Kini monyet pun bisa alih wujud menjadi manusia. Armo Gundul berhasil keluar dari Rawa Kalong dan melangkah ke dunia manusia memakai nama Entang Kosasih. Dia meniru tindakan manusia. Di antaranya, membunuh Joni Simbolon dengan revolver, berempati layaknya manusia kepada bocah yang hendak dilahap sanca. Yang paling menegangkan Entang Kosasih mampu berpikir secerdas manusia. Padahal manusia lebih menakutkan dari hantu (hal 37).
O dan Entang Kosasih akan menikah, namun batal karena Entang Kosasih menjadi manusia. O ingin menjadi manusia dengan ikut sebagai topeng monyet. Hanya melalui topeng, si monyet bisa meninggalkan dirinya, meletakkan diri-monyetnya di belakang dan menjadi manusia yang bisa dipahami manusia (hal 48).
Usaha O menyaru manusia dengan menjadi topeng monyet bukanlah mudah. Menyeberang dari dunia monyet ke dunia manusia merupakan sesuatu yang besar (hal 101). Belum lagi rintangan O saat bertemu dengan aneka makhluk dan manusia dengan persoalan masing-masing dalam perjalanan.
Manusia dan monyet berdiri dalam posisi sepadan. Monyet dan aneka makluk lain, ular, anjing, kakatua, bahkan revolver dan kaleng sarden bertindak serta berkata seperti manusia. Sedangkan manusia dalam novel ini tampil tak ubahnya hewan, saling makan, hidup dengan kelindan persoalan.
Kondisi ini mengingatkan pembaca pada teori filsuf Belanda, Baruch Spinoza (1632-1677) bahwa sejatinya manusia adalah binatang sosial. Pada tahap tertentu manusia akan menampakkan sisi kebinatangannya. Dalam novel O perenungan bahwa manusia bisa sangat mengerikan yang dikepung aneka persoalan hingga gelap mata. Ini membenarkan ungkapan Thomas Hobbes (1588-1679) bahwa Homo Homini Lupus, manusia merupakan serigala bagi manusia lain.
Novel menyuguhkan kritik tajam terhadap pola interaksi manusia modern sekarang. Dalam takaran tertentu manusia tidak ubahnya binatang. Batas antara manusia dan binatang setipis tirai.
Diresensi Khoimatun Nikmah, lulusan SMA Negeri 1 Tunjungan, Blora Jawa Tengah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar