Senin, 24 Oktober 2016

Kisah Sudarmi, Nenek 73 Tahun yang Masih Semangat Bekerja Sebagai Penambal Ban

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Khoirul Muzakki

TRIBUNJOGJA.COM, SEMARANG - Wajah berkeriput Sudarmi (73), berseri-seri saat seorang pengendara motor enggan menerima uang kembalian atas jasa Sudarmi memompa ban. Sempat ia berkomat-kamit melafalkan doa untuk si pengendara sebelum mesin kendaraan dinyalakan. Darmi, demikian ia akrab disapa, berucap syukur atas rizki yang diterimanya.

"Uangnya Rp 2000, padahal ongkosnya cuma Rp 1000. Tapi saya kembalikan tidak mau, Alhamdulillah terima kasih,"katanya, Sabtu (22/10).

Lapak tambal ban Sudarmi di Jalan Stadion Selatan Semarang Tengah, hanya seluas sekitar 2x6 meter. Beberapa bagian bangunan berbahan kayu dan bambu itu telah lapuk. Di gubuk itu, perempuan renta itu biasa duduk beralas tikar berlantai tanah, sambil menunggu orang memakai jasanya. Di hadapannya, terdapat tumpukan ban sepeda motor bekas, juga perlengkapan menambal, dan sebuah kaleng bekas berisi uang receh.

Sudarmi Penambal Ban_2
Sudarmi, Nenek Penambal Ban

Adapun Darmi mulai berjuang seorang diri setelah suaminya wafat, tiga tahun silam.

"Saya dan suami saya sudah 35 tahun bekerja di sini. Dulu waktu suami saya masih hidup, saya hanya membantu. Suami saya yang menambal,"kata Darmi sambil menunjukkan KTP almarhum suaminya yang tersimpan rapi di dompet

Menambal ban bukanlah pekerjaan yang akrab bagi kaum hawa, apalagi untuk perempuan renta sepantarannya. Kendati usianya lanjut, Darmi merasa tenaganya masih rosa. Ia mengaku masih kuat tenaganya untuk sekadar mengganti atau menambal ban. Namun, untuk pekerjaan yang membutuhkan energi lebih dari itu, Darmi enggan memaksa.

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search