
PROKAL.CO, Di Kalimantan Selatan yang religius, waria kerap menjadi warga negara kelas tiga. Sang ratu alias "Princess" Keket Fortuna berjuang keras untuk menghilangkan anggapan stereotipikal tentang waria. "Waria bukan sampah masyarakat!" ucapnya.
----------------------------------------------------
Keket merasakan dorongan untuk memberontak dari tubuhnya sejak balita. Dia masih berusia 4 tahun kala itu., masih terlalu kecil untuk dorongan alamiah, tetapi setidaknya itulah yang dikatakannya. "Aku terlahir sebagai laki-laki, namun aku merasa diri aku adalah perempuan," ujar Keket – tentu saja nama panggung. Di usia itu, ia sudah menggemari permainan perempuan seperti bermain boneka.
Kebiasaan bermain boneka meski diketahui orang tuanya, tapi masih dalam batas toleransi sebagai anak-anak. "Mereka masih memaklumi soalnya aku masih kecil," gelaknya.
Berawal dari boneka itu, akhirnya Keket mulai mengenal permainan anak perempuan lainnya. Kebiasaan yang terus berlanjut ini akhirnya membuat ayahnya khawatir. Sang ayah membuang boneka-boneka itu. Hal itu membekas bagi Keket dan membuat kesukaannya terhadap boneka semakin tertantang. Meski demikian, hingga saat itu, ia masih belum begitu menunjukkan dorongan jiwanya.
Baru saat memasuki kelas enam SD, ia mulai bermain sebagai anak perempuan. Saat itu, Keket diasuh oleh neneknya. Di lingkungan ia tinggal, ia bergaul dengan sepupu-sepupunya yang mayoritas adalah perempuan. Kondisi tersebut membuat jiwa "perempuan" Keket semakin menjadi-jadi. Namun, pada saat itu ia masih menahan diri untuk berpenampilan layaknya seorang perempuan.
Dorongan jiwanya berpuncak pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Itu saat-saat dilematis bagi Keket. "Waktu itu aku mengalami keraguan, apakah harus menjadi jadi cewek atau cowok," tuturnya. Ia menambahkan dalam penuturannya, jika ia memilih jadi perempuan otomatis kegiatan akademiknya akan terganggu. Setelah melakukan pergulatan dalam pemikirannya, ia akhirnya masih memilih untuk berpenampilan layaknya seorang laki-laki.
Tetapi, di SMA, Keket mulai intens bergaul dengan teman perempuan. Tak hanya itu, ia mulai mengikuti kegiatan dancing dan modelling. "Aku juga mulai mencoba memakai eyeshadow dan lipstik," jelasnya. Hasrat "perempuan" dalam diri Keket semakin tebal pada saat itu.
Setelah lulus SMA, Keket mulai mencari pekerjaan. Akhirnya, ia mendapatkan pekerjaan di salah satu pusat perbelanjaan di kota Banjarmasin. Ia menggeluti pekerjaan itu selama dua tahun. Namun, setelahnya mendapatkan tekanan dari pekerjaan untuk bersikap layaknya seorang laki-laki. Keket merasakan itu bukanlah iklim kerja yang membuatnya betah.
Sembari bekerja di pusat perbelanjaan tersebut dan menunggu habisnya kontrak kerja, Keket mulai mencari-cari waktu untuk ikut bergaul di salon tempat temannya. Di salon, Keket memutuskan untuk menjadi perempuan yang sebenarnya. Ia mulai mengganti cara berpakaian seutuhnya. "Rambut aku panjangin dan memakai dress," ujar Keket.
Tak mudah menjadi seorang waria
Keket harus menyesuiakan diri dengan keluarga maupun masyarakat. Misalnya, kala lebaran tiba. Lebaran menjadi waktu Keket untuk menyesuaikan diri. Menghormati keyakinan dan keluarganya, ia memilih untuk berpenampilan seperti laki-laki pada umumnya kembali.
Meski demikian, Keket ternyata seorang yang teguh dalam memegang prinsip. Ia menuturkan, sebisa mungkin akan menjadi waria yang jauh dari sisi negatif. "Menjadi waria bukanlah sebuah kesalahan, mereka hanya dalam proses mencari jati diri."
Saat ini, Keket sudah bekerja sebagai koordinator program Peduli Pilar Waria Kota Banjarmasin di Perkumpulan Keluaraga Berencana Indonesia (PKBI) Kalimantan Selatan.
Ia, bersama dengan waria lainnya banyak melakukan hal positif untuk memperjuangkan hak-hak waria sebagai kaum minoritas. Diantaranya adalah, melakukan mediasi terhadap waria yang mengalami penolakan di keluarga dan mengikuti kontes-kontes kecantikan.
Tak hanya berkontribusi di komunitasnya, Keket dan teman-temannya juga berkontribusi di masyarakat. Melakukan pelatihan make-up dan fashion , mentoring strategi pemasaran bagi ibu-ibu rumah tanggasampai menggalakan kegiatan bakti sosial. "Hal-hal seperti itu mudah-mudahan mengubah pandangan negatif di mata masyarakat," terangnya. (mr132/ran/ema)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar