Liputan6.com, London - Tenggelamnya RMS Titanic pada 15 April 1912 adalah salah satu kecelakaan maritim pada masa damai yang terbesar di dunia. Kapal itu celaka dalam pelayaran perdananya, dari Southampton, Inggris ke Kota New York, Amerika Serikat.
Gunung es di Laut Atlantik mengakhiri perjalanan pertama dan satu- satunya Titanic, menghempaskan bahtera itu ke kedalaman 3.787 meter.
Dari sekitar 2.224 orang yang berada di dalam Titanic, hanya 710 orang yang sampai di kota tujuan, New York. Mereka diangkut menggunakan RMS Carpathia, kapal penumpang yang merespons bencana dan menampung mereka yang lolos dari maut.
Sebelum angkat sauh dari Southampton, Titanic diyakini sebagai kapal yang tak mungkin tenggelam. Ia dilengkapi dengan sistem keselamatan paling mutakhir pada masanya. Misalnya, pintu kedap air yang bisa dikendalikan dari jauh, juga kompartemen serupa yang didesain membuat bahtera tetap mengambang pada saat terjadi kecelakaan.
Namun, peralatan canggih itu ternyata tak bisa menyelamatkan Titanic. Sebab, seperti dikutip dari The Vintage News, Sabtu (28/10/2017), tabrakan tak terduga dengan gunung es merobek dindingnya, memenuhinya dengan air, pecah, dan kemudian tenggelam dalam waktu singkat.
Dan, kelemahan fatal dalam sistem keselamatan di Titanic adalah kurangnya sekoci. Hal 'sepele' itu bertanggung jawab atas 1.517 orang di dalamnya.
:strip_icc():format(jpeg)/liputan6-media-production/medias/1521292/original/040025600_1488210499-20170227-Pemakaman_korban_Titanic.jpg)
Sekoci yang ada dalam Titanic hanya mampu memuat 50 persen penumpang. Dan, ada kisah menarik soal itu.
Sebelumnya, 26 tahun sebelum Titanic bertemu dengan takdirnya, seorang jurnalis investigasi asal Inggris, William Thomas Stead membuat sebuah tulisan.
Tulisannya mencoba membuat masyarakat peduli tentang sistem keselamatan transportasi, terutama kurangnya sekoci di kapal-kapal yang baru dibangun kala itu.
Salah satu cerita pendek (cerpen) yang ia tulis berjudul, How the Mail Steamer Went Down in Mid Atlantic, by a Survivor, yang dipublikasikan di Pall Mall Gazette pada Maret 1886.
Alkisah, seorang pelaut Inggris bernama Thomas berlayar dengan sebuah kapal baru yang memulai perjalanan perdananya ke Amerika Serikat.
Setelah mengarungi lautan, Thomas baru sadar bahwa jumlah sekoci yang ada terlalu sedikit untuk bisa menyelamatkan seluruh penumpang dan awak kapal.
Namun, petinggi kapal tak menanggapi laporannya dengan serius.
Beberapa hari kemudian, bahtera itu menabrak kapal layar, yang melintang di jalur pelayarannya, yang tak terlihat akibat tertutup kabut tebal.
Di tengah kepanikan yang terjadi setelah tabrakan, para penumpang dan awak kapal baru sadar sekoci yang ada tak memadai.
Dari 916 orang yang berada dalam kapal, hanya 200 orang yang bisa diangkut dengan sekoci, 700 lainnya tamat di lautan ganas.
Thomas dikisahkan selamat. Kelasi itu bisa menyelamatkan diri dengan cara terjun ke laut dan memanjat salah satu sekoci.
Kisah tersebut ditambahi dengan komentar editorial penulisnya. "Inilah yang mungkin terjadi dan akan terjadi jika kapal penumpang dikirim ke lautan dalam kondisi kekurangan sekoci," tulis William Thomas Stead.
:strip_icc():format(jpeg)/liputan6-media-production/medias/1632403/original/020995500_1498198934-kifhde.jpg)
Namun, peringatan Stead hanya mendapatkan sedikit perhatian saat dipublikasikan. Hingga akhirnya, tragedi Titanic terjadi....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar