
Liputan Wartawan Valdy Vieri Suak
TRIBUNMANADO.CO.ID, RATAHAN - 'Sangat indah, namun tak terawat' begitu kalimat yang diutarakan Meydi Tewu saat ditemui Tribun Manado usai menginap semalaman di Bukit Harapan, Pantai LakbanRatatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra).
Dengan bermodalkan tiga tenda ia dan rekan-rekannya sesama Komunitas Pecinta Alam (KPA) menikmati panorama puncak harapan. Ia memuji karya Tuhan di dekat objek Wisata Pantai Lakban itu. Saat siang hari, hamparan lautan biru terlihat jelas. Saat malam bintang-bintang pun terlihat jelas dari puncak tersebut. Pesisir pantai terlihat sedap dipandang, saat lampu-lampu rumah warga mulai menyalah.
"Sensasinya berbeda saat kita berada di Gunung, udarah disini sejuk tapi tidak terlalu dingin. Pemandangan laut dan tepian pantai juga sangat memuaskan mata," katanya.
Saat pagi hari pun bisa melihat indahnya matahari terbit, yang berlahan keluar dibalik birunya lautan. "Yang spesial berada di puncak ini bisa menikmati dua momen indah yakni matahari terbit dan terbenam. Ini jarang ditemukan di daerah lain," ungkapnya.
Dalam keadaan apapun para pelancong tetap bisa berlama-lama di puncak tersebut. Meski hujan, bisa mendirikan tenda dalam gazebo besar yang ada di puncak. Simbol beragam Agama juga berdiri kokoh di puncak tersebut, melambangkan kerukunan warga sekitar.
Namun dibalik keindahan itu terselip pemandangan yang tak mengenakan. Sampah-sampah berserakan di sekitar lokasih bukit harapan. Mulai dari botol minuman, bungkus plastik dan kayu-kayu kering berserakan. Beton-beton bangunan terlihat retak. Tak terurus memang, sejak di tinggal PT Newmont Minahasa Raya (NMR).
KPA yang datang pada saat itu pun langsung melakukan pembersihan sampah-sampah yang berserakan. "Tapi kita tidak selalu disini, seharusnya masyarakat disini juga harus peduli akan objek wisata ini," ungkap Tewu.
Potensi ini pun disambut kekecewaan para KPA, lanjut Tewu ini harus menjadi perhatian pemerintah. "Saya prihatin ini tak dimanfaatkan Dinas Pariwisata. Dimana bukit ini bisa menjadi potensi wisata yang menjanjikan," ungkapnya.
Dia pun menyesalkan jika potensi wisata tersebut terus dibiarkan. "Lihat saja jalan menuju puncak saja dipenuhi rumput, tangga pun sudah tertutup," ungkapnya.
Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Desten Katiandago mengatakan, bahwa itu belum menjadi milik Pemkab. "Itu masih menjadi salah satu aset NMR, namun kita sudah ada komunikasi. Nantinya lokasih itu akan dihibahkan ke Pemkab untuk kemudian kembali dikelola," jelasnya. (Val)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar