
Keluarga tersebut terdiri dari 5 orang yaitu Muhammad Husein (33), Qudsiah (30), dan tiga anaknya yaitu Ali Khisoh (9), Ahmad (7), dan Ilyas (3). Mereka sudah tinggal di warung tersebut sudah sejak sepekan lalu.
Dibantu alih bahasa yang tinggal di Rudenim, Husein mengatakan ia sudah 4 bulan di Indonesia karena situasi di tempat asalnya yang tidak aman. Bahkan rumahnya sudah hancur akibat perang. Sebelum di Semarang, mereka tinggal bersama komunitas mereka di Bogor.
"Saya sudah 4 bulan di Indonesia. Di sini (Semarang) sudah sejak 30 Oktober," kata Husein, Selasa (7/11/2017).
Husein dan keluarganya ditolak di Rudenim karena kuota yang penuh dan tidak mampu menampung. Ia pun terpaksa tinggal di warung tenda berukuran 3x4 meter itu.
"Saya ke Semarang terpaksa jual handphone. Ini Ilyas sedang sakit," tandasnya.
Selama warung beratap plastik itu tutup, Husein menggelar tikar seadanya. Kemudian ketika warung buka, maka ia bergeser ke warung sebelahnya yang tidak beratap. Untuk mandi dan ibadah, mereka menumpang di masjid terdekat.
Sedangkan untuk makan sehari-hari, mereka mendapatkan dari warga yang merasa iba. Keluarga tersebut memang awalnya berniat mendapatkan tempat tinggal layak di Semarang, namun mereka terlunta-lunta karena tidak bisa ditampung dan juga tidak memiliki uang.
"Kami memilih tinggal di sini karena tidak punya uang," ujarnya.
Dikembalikan ke Bogor
Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Rudenim Semarang, Dwi Alfa Novando mengakui kuota di Rudenim Semarang sudah penuh sehingga keluarga Husein tidak bisa masuk. Pihaknya juga sudah meminta agar mereka kembali ke komunitas mereka di Bogor.
"Sudah setiap hari kita datangi, mereka memilih menetap di sini padahal kita ingin mereka kembali ke Bogor," kata Dwi Alfa.
Dwi menjelaskan, Rudenim Semarang seharusnya hanya berkapasitas untuk 60 orang imigran, namun kini kelebihan kapasitas dengan jumlah imigran mencapai 140 orang. Para imigran tersebut antara lain terdiri dari 75 warga Afganistan, 22 warga Somalia, 18 warga Vietnam, 3 warga Sudan, 3 warga Iran, 3 warga Srilanka, 3 warga Pakistan, 2 warga Taiwan, 1 warga Irak, 1 warga Myanmar, 1 warga Nigeria, dan 1 warga Lesoto.
"Maka kami hanya bisa pasrah dan tegas. Kalau kita terima nanti datang imigran lain," ujarnya.
Maka jalan keluar pun diambil dengan mengembalikan mereka ke Bogor. Petugas Rudenim mendatangi mereka dan memasukkan barang-barang bawaan keluarga tersebut ke mobil.
Husein dan keluarganya pasrah, dan istrinya Qidsiah tak kuasa menahan tangis. Penantian mereka tinggal di Rudenim pupus, dan mereka dibawa ke terminal agar pulang ke Bogor dan dibiayai Rudenim.
"Ini solusi terbaik untuk mereka. Perintah pimpinan mereka kita kirim ke Bogor," tandasnya.
Warga di sekitar warung pun merasa iba melihat kondisi keluarga Husein selama sepekan ini. Salah satu warga, Hj Jaelani pun sudah pernah menawarkan agar mereka tinggal di rumahnya namun ditolak karena khawatir membawa masalah.
"Sudah kami tawari tinggal di rumah sata, tapi mereka tidak mau. Katanya takut keluarga saya dapat masalah," kata Hj Jaelani.
"Saya berharap mereka segera dapat tempat baru yang manusiawi, kasihan," imbuhnya.
(bgs/bgs)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar