
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, JAKARTA - Di Bursa Efek Jakarta (BEJ) tercatat lebih dari 200 saham perusahaan publik (emiten) diperdagangkan melalui Jakarta Automated Trading System (JATS).
Pada saat melaksanakan order jual atau beli, para trader (pialang di lantai bursa) menginput nama emiten dengan kode yang telah ditentukan oleh otoritas bursa.
Contohnya antara lain saham Telkom kodenya TLKM, Bank BNI 46 (BBNI), Indosat (ISAT), Indah Kidt Pulp and Paper (INKP), HM Sampurna (HMSP), dsb.
Baca: Idap Penyakit Langka, Gadis Ini Hasilkan Lukisan Menakjubkan
Untuk perintah jual beli kerap terdengar bahasa komunikasi sebagai berikut, "Beli Telkom, lima ribu, lima lot!" Artinya beli saham PT Telkom dengan harga Rp 5.000,- sebanyak lima lot.
"Jual INKP, sekian lot." (Jual saham PT Indah Kiat, sekian lot).
Atau informasi macam, "Isat naik dua poin!" (Maksudnya harga saham Indosat naik Rp 50,- dari harga sebelumnya.)
Di samping kode-kode resmi, rupanya trader (di lantai bursa) atau dealer (di ruang dealing) memiliki kode "tidak resmi" ciptaan sendiri alias "plesetan" yang pada waktu-waktu tertentu bisa juga jadi pelarut ketegangan.
Atau, memang lebih mudah terasosiasikan bagi saham tertentu ketimbang kode resmi.
Baca: Puluhan Warga Datanggi Kantor Dinas Tenaga Kerja Terkait Masalah Boyok, Tonton Videonya
Jadi, jangan heran kalau terdengar pembicaraan seperti, "Garam! Garam ... diguyur!" (Maksudnya saham Gudang Garam saat itu banyak dijual oleh beberapa broker).
Kemudian disambung dengan, "Ricky ... kolor ... naik lagi tuh" (maksudnya saham PT Ricky Putra Globalindo Tbk dengan kode Ricky emiten pembuat pakaian dalam pria merk GT Man kursnya naik kembali setelah sebelumnya turun).
Lalu ada lagi, "BH item punya Rina open dua lot, ya!!" (Maksudnya saham PT Bhakti Investama Tbk dengan kode BHIT pesanan nasabah bernama Rina belum terjual dua lot lagi). (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar