dari Jakarta: Maria dan Christina Magal tiba di Bandara Mozes Kilangin Timika, Papua, (20/2).
INDOPOS.CO.ID - Maria Magdalena Magal, 12, dan Christina Natalia Magal, 10, korban anak di bawah umur akhirnya tiba di Timika, Papua, kemarin (20/2). Sebelumnya, mereka ditampung di rumah penampungan yang disinyalir ilegal di Jakarta selama setahun. Berbagai kisah pilu dan dugaan kekerasan dialaminya. Seperti apa?
Pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA 652 dari Denpasar, Bali, kemarin (20/2) sekitar pukul 06.30 WIT tiba di Bandara Mozes Kilangin Timika, Papua. Di antara ratusan penumpang yang turun dari pesawat, terdapat dua bocah perempuan yaitu, Maria Magdalena Magal,12, dan Christina Natalia Magal,10, yang merupakan korban penampungan yang diduga ilegal di Jakarta.
Kedua bocah ini tiba dari Jakarta didampingi sang ibu mereka yang biasa disapa Ibu Dimara, serta neneknya. Saat tiba di ruang kedatangan bandara, Maria dan Christina langsung disambut dengan pelukan dari sanak saudara maupun kerabat yang sejak subuh untuk menjemput keduanya.
Selain itu, hadir pula Kapolres Mimika AKBP Vicktor D. Mackbon, Kasat Reskrim Polres Mimika AKP Dionisius V.D. Helan, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Kabupaten Mimika Alice Wanma, perwakilan dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Mimika Syane Mandesi, dan Kanit PPA Polres Mimika Ipda Fanny Silvia Tahapari.
Kepada koran ini, Maria sempat bercerita tentang kisah mereka selama berada di rumah penampungan tersebut. Rumah penampungan itu dikelola seorang perempuan yang mengaku sebagai suster biara berinisial SR. Di rumah tersebut terdapat tujuh anak di antaranya Maria, Christina, Yosei Magal dan Yosep Magal serta tiga orang lainnya yang berasal dari daerah Ambon, Flores dan dari Afrika. "Kita ada tujuh orang, empat dari Timika, lalu dari Ambon satu orang, dari Flores satu orang, lalu dari Afrika satu orang," katanya sambil mengangkat tas miliknya dari troli.
Maria mengaku di rumah penampungan tersebut selama satu tahun lebih. Ironisnya, dia bersama teman-temannya tidak disekolahkan seperti yang dijanjikan SR. Sebaliknya, saat tiba di Jakarta, mereka diperlakukan tidak seperti apa yang mereka impikan. "Tiap hari kita cuma disuruh mencuci pakaian, cuci piring, memasak, pel lantai rumah. Jadi kita tidak dikasih sekolah," ucapnya dengan tenang.
Selain itu, gadis berambut pendek ini bersama teman-temannya tidur di lantai rumah tanpa beralaskan tikar atau kasur. "Kami tidur di lantai begitu saja, tidak pakai alas apa-apa. Sampai saya pernah sakit tapi suster (panggilan SR, Red) tidak peduli. Makanya, saya sakit sampai akhirnya sembuh sendiri. Terkadang kalau ada tamu yang datang, suster suruh kita berdiri untuk goyang sambil bernyanyi. Nanti diberikan uang oleh tamu, tapi uangnya suster yang ambil," ujar Maria.
Lantaran sudah tidak tahan dengan perlakukan SR terhadap mereka, maka salah satu dari empat bocah asal Timika ini yakni, Christi, sapaan Christina nekat kabur dari rumah penampungan. Kemudian dia menumpang di rumah salah satu warga asal Flores di dekat rumah penampungan tersebut. Cristi juga meminta tolong kepada ibu pemilik rumah untuk mencari alamat Facebook (FB) milik kerabatnya di Timika. Akhirnya ketika ditemukan akun FB milik salah satu kerabat mereka, Christi pun langsung menceritakan kondisi dan penderitaannya selama ditampung SR. Kemudian keluarganya langsung melakukan upaya untuk mengeluarkan anak-anak mereka dari rumah penampungan ilegal tersebut. Pihak keluarga juga berkoordinasi dengan pihak terkait di antarnya P2TP2A Kabupaten Mimika dan PPA Polres Mimika.
Dan berkat koordinasi dengan Komnas Anak, ketujuh anak tersebut akhirnya bisa keluar dari rumah penampungan yang beralamat di Jalan Intisari Raya No 37, Jakarta Timur itu. Selanjutnya anak-anak diamankan di Safety House.
Sementara itu, Ibu Dimara juga bercerita mulanya SR datang ke Kota Timika hendak mencari anak-anak yang punya keinginan untuk bersekolah di Jakarta, sekolah misi. "Suster itu kita juga sudah kenal. Dia sering datang ke Timika dan tinggal bersama Mama Emma Magal. Makanya, waktu dia datang ke rumah untuk tawari anak-anak sekolah, kita percaya," katanya.
Ibu Dimara mengatakan, berdasarkan cerita kedua anaknya, selama mereka ditampung di rumah penampungan tersebut anak-anaknya selalu mendapat perlakuan kasar, bahkan sampai dianiaya. "Kita punya anak-anak ini kisahnya paling sedih, dan saya selaku orang tua juga tidak menyangka kalau suster itu mau perlakukan anak-anak kita seperti itu. Bahkan dikasih makan sampah, dikasih minum air pel," kata ibu Dimara dengan wajah sedih ketika ditanyai Kapolres Mimika.
Ibu dari Maria dan Christi ini juga menceritakan, kalau dua rekan Maria dan Christi, yakni, Yosei Magal dan Yosep Magal saat ini juga telah dibawa ke Semarang, Jawa Tengah oleh tante mereka.
Sementara itu, Kapolres Mimika AKBP Vicktor D. Mackbon mengatakan, terkait dengan dugaan kasus penganiayaan dan perlakuan tidak manusiawi yang dilakukan tersangka SR terhadap empat bocah asal Timika di Jakarta, maka pihaknya akan tetap berkoordinasi dengan Polres Jakarta Timur (Jaktim) untuk penanganan kasus tersebut. "Kita tetap koordinasi dengan Polres Jaktim terkait penanganan kasus ini, dan apa saja yang mereka butuhkan untuk proses penyelidikan dan penyidikan," ujarnya.
Kata Kapolres, langkah selanjutnya melakukan pengembangan terhadap dugaan keterlibatan orang lain, dalam merekrut empat bocah yang dibawa ke Jakarta sejak satu tahun lalu itu. "Tentunya kita akan kembangan kasus ini di Timika. Makanya, kita sudah koordinasi dengan Reskrim Jaktim untuk membantu melakukan penyelidikan dan penyidikan," kata Vicktor.
Kapolres berjanji akan mengungkap kasus tersebut, dan ada dugaan keterlibatan orang lain, yang ikut membantu tersangka dalam merekrut empat anak di bawah umur itu. "Bisa saja ini suatu kejahatan yang teroganisir, makanya akan kita kembangkan," ujarnya. (tns/jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar