
Sayangnya, tidak selamanya utang berakhir dengan kisah bahagia layaknya kisah-kisah percintaan di layar kaca. Ada negara yang justru menderita karena utang yang mereka miliki.
Sebut saja Republik Zimnbabwe, negara kecil di Afrika itu melakukan pinjaman kepada Tiongkok sebesar USD 40 juta. Sayangnya, utang itu tidak mampu dibayar oleh negara dengan jumlah penduduk sekitar 16,15 juta jiwa.
"Akhirnya Zimbabwe harus mengikuti keinginaan Tiongkok dengan mengganti mata uangnya menjadi Yuan sebagai imbalan penghapusan utang. Mata uang Yuan di Zimbabwe mulai berlaku 1 Januari 2016, setelah pemerintahan Zimbabwe tidak mampu membayar utang yang jatuh tempo pada akhir desember 2015," kata Peneliti Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Rizal Taufikurrahman di Jakarta, Rabu (21/3).
Republik Zimbabwe tak sendirian. Sri Langka juga mengalami nasib yang serupa. Bedanya, Sri Langka tidak mengganti mata uangnya melainkan memberikan Pelabuhan Hambatota kepada BUMN Tiongkok.
"Karena tidak mampu membayar utang, akhirnya pemerintah Sri Langka melepas Pelabuhan Hambatota sebesar Rp 1,1 triliun atau sebesar 70 persen sahamnya di jual kepada BUMN Tiongkok," jelas dia.
Kendati demikian, ada juga negara yang sukses dengan utangnya tersebut, yakni Korea Selatan. Pinjaman dari Amerika Serikat mampu dioptimalkan Negeri Ginseng untuk membangun sumber daya manusia (SDM) dan industrinya.
"Bantuan keuangan ini tidak membuat Korea terjebak dalam lingkaran hutang seperti yang dialami banyak negara berkembang. Korsel kini menjdi negara pengekspor peringkat 8 dunia setelah Tiongkok, Amerika, Jerman, Jepang, Prancis, Belanda dan Inggris. Orientasi ekonomi pada ekspor menjadi salah satu pendongkraknya," pungkasnya.
Bagaimana dengan Indonesia? Data Bank Indonesia mencatat Utang Luar Negeri Pemerintah Indonesia tercatat sebesar USD 183,4 miliar atau sebesar Rp 2.512,5 triliun dengan kurs Rp 13.700 per USD.
Deputi Direktur Departemen Statistik Bank Indonesia Tutuk Cahyono mengatakan, pertumbuhan utang Indonesia tercatat stabil di angka 10,3 persen. Naiknya laju utang dalam rupiah, salah satu faktornya karena pelemahan nilai tukar yang terjadi terhadap USD.
Menurutnya, hal ini sejalan dengan kebutuhan dalam pembiayaan proyek infrastruktur dan sektor produktif lainnya.
Dikatakan Tutuk bahwa komposisi utang Pemerintah Indonesia merupakan utang jangka panjang, yakni mencapai 98,1 persen dai total USD 183,4 miliar. Selain itu, rasio utang Indonesia dibanding produk domestik bruto (PDB) berada dikisaran 34,7 persen.
Angka itu pun masih lebih baik dibanding beberapa negara lainnya, seperti Malaysia yang memiliki rasio utang luar negeri sebesar 68 persen.
Dengan komposisi utang yang hampir seluruhnya berjangka panjang, Tutuk mengklaim utang Pemerintah Indonesia saat ini masih dalam kondisi aman.
(hap/JPC)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar