Jumat, 20 Mei 2016

Meski Kreatif, Bocah Pemburu Klakson Harus Tetap Diawasi Orang Tua

Bocah pemburu klakson telolet berdiri di tepi jalan untuk mendapatkan gambar bus yang melintas, Rabu (18/5/2016). (Mariyana Ricky P.D./JIBI/JIBI/Solopos)Bocah pemburu klakson telolet berdiri di tepi jalan untuk mendapatkan gambar bus yang melintas, Rabu (18/5/2016). (Mariyana Ricky P.D./JIBI/JIBI/Solopos)

Kisah unik tentang fenomena anak-anak dan remaja berburu suara klakson bus terjadi di sejumlah tempat.

Harianjogja.com, SOLO – Para bocah dan remaja di sejumlah wilayah di Soloraya beberapa waktu terakhir sedang menggemari aksi merekam suara klakson dengan ponsel. Rekaman suara tersebut mereka unggah di media sosial.

Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Ahmad Romdhon, menyebut aktivitas bocah pemburu klakson telolet itu termasuk penyaluran kegiatan positif. Mereka memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk berkreasi, menjadi pengisi konten di internet bukan sekadar penikmat, dan bisa memacu kreativitas.

"Mereka mengikuti perkembangan zaman dengan aktivitas merekam dan memotret menggunakan ponsel. Ini positif karena mereka menjadi pengisi konten internet. Mereka juga memantapkan circle dengan berkumpul bersama sesama pemburu klakson telolet," kata dia, saat dihubungi solopos.com, Rabu (18/5/2016).

Romdhon mengatakan kegiatan itu juga dapat menghindarkan remaja belasan tahun untuk berbuat hal negatif. Mereka sibuk berkreasi merekam laju bus yang melintas kemudian mengunggahnya ke media sosial.

"Bicara soal kreasi dan media sosial, bocah-bocah ini pasti berupaya merekam karya terbaik. Mulai dari angle, spot, durasi, dan momentum. Mereka mengasah skill setiap hari sehingga dari sini akan muncul bakat-bakat baru," papar Romdhon.

Ihwal etika merekam di jalan raya, Romdhon menyebut aktivitas tersebut membutuhkan perhatian orangtua. Orangtua harus mengarahkan anak dan memberi pengertian soal bahaya jalan raya dan kendaraan. Sehingga para bocah ini selalu berada dalam batas-batas aman dalam melakukan kegiatannya.

"Bocah harus tahu bahwa jalan dan kendaraan itu bisa membahayakan diri sendiri. Mereka bisa terserempet apabila terlalu asyik merekam. Peran orangtua mengarahkan mereka agar tetap menjaga etika saat berburu klakson telolet," ujar Romdhon.

Hal senada juga disampaikan sopir bus PO Gunung Sari, Dwi Sulistiadi, 33. Ia meminta para pemburu klakson telolet tetap berhati-hati dalam menjalankan aksinya. Pasalnya, mereka terkadang memepet bus saat berhenti di lampu merah untuk mendapatkan bunyi klakson telolet.

"Seringnya di pinggir jalan, mereka mengacungkan jempol agar sopir memencet tombol klakson. Kami sudah biasa jadi terkadang kalau ketemu mereka, langsung saja klakson itu kami lepas," ungkap Sulis.

Dia mengaku jenis klakson telolet yang diburu para bocah itu adalah jenis enam corong. Jenis ini memiliki bebunyian lebih kencang dan terdiri dari delapan tombol.

"Ada yang hanya tiga corong dengan jumlah nada yang lebih terbatas. Kebetulan bus yang saya kendarai itu ada enam corong sehingga kerap diacungi jempol saat melintas," kata dia.

 

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search