
TRIBUNJATENG.COM, PONTIANAK - Berbagai kisah memilukan diceritakan sejumlah Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah (TKIB) yang datang sebanyak 54 orang di Dinsos Kalbar pada Sabtu (12/11/2016) dini hari.
Satu di antaranya, kisah yang dialami warga Sungai Duri, Kabupaten Bengkayang, bernama Suhardi (23).
Ia tertarik bekerja ke Malaysia pada tahun 2013, dengan dijanjikan pekerjaan sebagai buruh bangunan.
"Sampai di sana betul kerja bangunan, gaji tergantung kepandaian kita, awal-awal kita belum pandai bekerja digaji RM 40, tapi kalau sudah pandai plaster, sudah lihai semuanya digaji RM 60 hingga RM 70," ucap dia usai tiba di Dinsos Kalbar, Sabtu (12/11/2016) dini hari.
Sulung dari dua bersaudara ini mengaku, untuk bekerja ke Malaysia, pada tahun 2013 masuk secara resmi menggunakan paspor melalui PLBN Entikong.
Namun, tertangkap petugas Polis Malaysia saat hanya selangkah lagi sampai di PLBN Entikong.
"Saya punya paspor sudah dua tahun tidak dicap (stempel) karena mahal dan jauh. Sebenarnya saya kena tangkap kemarin pas saya mau balik, di Tebedu saya kena tangkap, padahal hampir sampai PLBN Entikong," jelasnya.
Lanjut Suhardi, ia merasa telah dijebak pihak agen, lantaran sebelum ditangkap (Polis Diraja Malaysia) PDRM, ia dan rekan-rekannya sesama TKIB diminta untuk menitipkan sejumlah uang dan telepon seluler kepada agen tersebut.
"Saya kira dia mau mengurus saya. Dia bilang kalau ada duit suruh simpan sama dia, karena nanti diambil polisi. Terus saya simpan RM 750 sama HP punya saya sama orang lain yang nitip itu 11 HP diambil semua. Saya kira dia mau ngurus saya sama polisi, tak tahunya saya dibawa ke Balai Polis Tebedu, saya dijebak, memang sengaja dia," terang dia.
Menurut pengalamannya, petugas Imigresen Malaysia dikenal bersikap kasar, jika dibandingkan dengan petugas PDRM.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar