Sabtu, 30 September 2017

Kisah Polisi Soekitman, Sang Penemu Lubang Buaya, G30S/PKI

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tatkala Republik ini masih berdiri dengan kokoh, kisah sejarah Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI)  tak pernah pernah lekang dalam ingatan bangsa Indonesia. 

Sebuah peristiwa kelam yang terjadi malam tanggal 30 September sampai 1 Oktober 1965, tujuh perwira tinggi militer Indonesia dibunuh dan dijebloskan dalam sebuah sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Bersamaan dengan itu, peristiwa Lubang Luaya tak akan pernah jadi sejarah tanpa campur tangan saksi kunci dalam persitiwa itu. Tersebutlah nama Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Soekitman, satu-satunya orang yang berperan sebagai 'mata' dalam adegan kejam di Lubang Buaya.

Ajun Komisaris Besar Polisi (Purn.) Soekitman (lahir di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat , 30 Maret 1943 – meninggal di , Depok, Jawa Barat , 13 Agustus 2007 pada umur 64 tahun) adalah saksi sejarah terjadinya Gerakan 30 September 1965 oleh Partai Komunis Indonesia G30S/PKI dan penemu lokasi pembuangan jenazah para jenderal Pahlawan Revolusi Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Soekitman terakhir berdinas di kepolisian selaku Kepala Sub Bagian (Kasubag) Regiden Polda Metro Jaya, dan pensiun pada 1998.

Karier

Soekitman lahir di Desa Cimanggu, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Di usia 18 tahun, Soekitman merantau ke Jakarta dan lulus ujian seleksi masuk Sekolah Polisi Negara SPN Kramat Jati, Jakarta Timur, pada 1961. 

Siswa Angkatan VII SPN Kramat Jati ini menyelesaikan pendidikannya pada Januari 1963 dan dilantik menjadi Agen Polisi Tingkat II. Ia pun memulai karier sebagai polisi di Markas Polisi Seksi VIII Kebayoran, Jakarta, sebagai anggota perintis dari Kesatuan Perintis/Sabhara.

Bagaimana kisah sejarah penemuan lokasi penguburan massal ke-7 Pahlawan Nasional itu? 

Ini Kisahnya

Singkatnya, dikutip dari buku 'Kesaksian Sukitman, Penemu Sumur Lubang Buaya', pada malam di mana peristiwa penculikan dan pembunuhan ke tujuh jendral berlangsung. Agen Polisi II (jabatan awal Sukitman) itu sedianya berjaga di Seksi Vm Kebayoran Baru (sekarang Kores 704) yang berlokasi di Wisma AURI di Jalan Iskandarsyah, Jakarta, bersama Sutarso rekannya yang berpangkat sama.

Dengan sepeda inilah Soekitman memergoki gerombolan tentara yang hendak masuk ke rumah Jenderal DI Panjaitan pada 30 September 1965 dalam pemberontakan G30 S/PKI.

Lokasi penjagaan tak jauh dari kediaman Mayjen Donald Isaac Pandjaitan yang juga jadi korban pembunuhan PKI, di malam 30 September 1965.

Ketika mendengar rentetan tembakan dari arah kediaman DI Pandjaitan di pagi buta 1 Oktober, segera Soekitman meninggalkan rekannya yang tetap di pos jaga, untuk mendatangi suara tembakan. 

Tapi di tengah kayuhan sepeda kumbangnya, Soekitman diberhentikan beberapa oknum tentara berseragam loreng dan berbaret merah, yang berusaha menghentikannya.

Di bawah ancaman senjata di kiri-kanan, Soekitman kemudian diseret dan dilemparkan ke dalam truk dalam keadaan tangan terikat dan mata tertutup. Kemudian, Soekitman ikut diculik ke Lubang Buaya dan sempat disiksa.

Dialah satu-satunya saksi ketika para jenderal dimasukkan ke sebuah lubang galian nan sempit.

Dari jarak sekitar 10 meter Soekitman bisa melihat dengan jelas sekelompok orang mengerumuni sebuah sumur sambil berteriak, "Ganyang kabir, ganyang kabir! (Ganyang jendral, red)"

Di dalam sumur itu dimasukkan tubuh manusia - entah dari mana – yang langsung disusul oleh berondongan peluru. Soekitman sempat melihat seorang tawanan dalam keadaan masih hidup dengan pangkat bintang dua di pundaknya, mampir sejenak di tempat ia  ditawan.

Pada hari di mana Soekitman berhasil lolos dalam kejadian kelam tersebut, ia masuk ke kolong truk untuk berbaring, karena kepalanya pusing. Walau sempat beberapa kali mendengar suara tembakan, Soekitman tetap tertidur pulas. Sampai ketika terbangung di sore hari, ia mendapati dirinya sendirian dekat lokasi kejadian. Tak ada pasukan yang semula menyiksa ke tujuh pahlawan revolusi tersebut.

Segera Sukitman melarikan diri dan melapor ke Markas Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) pada 3 Oktotber dan dipertemukan dengan Kolonel Sarwo Edi Wibowo. Soekitman diminta membuat denah tempat pembuangan mayat para jenderal, untuk dijadikan petunjuk pasukan RPKAD menggerebek lokasi tersebut.

Saat menjadi pemandu saat bersam Mayor CI Santoso dan ajudan Letjen Ahmad Yani, Kapten CPM Subarti, Soekitman nyaris tak bisa menemukan lubang yang dimaksud, lantaran tertimbun sampah. Kemudian di atasnya ditanamkan pohon pisang. Beruntung, lubang tersebut bisa ditemukan.

Karir Soekitman memang sedianya tak punya catatan cemerlang, tapi perannya sebagai saksi hidup peristiwa G30S hingga bisa jadi penuntut ditemukannya para jenderal itu, namanya mencuat.

Soekitman menerima penghargaan berupa kenaikan pangkat menjadi Agen Polisi Satu. Dia mendapatkan kenaikan pangkat dari AKP (Ajun Komisaris Polisi) menjadi AKBP (Ajun Komisaris Besar Polisi). Bintang Satria Tamtama diperolehnya bertepatan dengan Hari Kepolisian, 1 Juli 1966, dan Bintang Satya Penegak diberikan oleh Presiden Soeharto, tepat pada Hari ABRI, 5 Oktober 1966.

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search