Rabu, 03 Agustus 2016

Menguak Kisah 'Alexander McQueen' dari China

Jakarta, CNN Indonesia -- Di sepanjang jalan Rue Saint Honore, jalan paling modis di Paris, terdapat sebuah showroom yang letaknya agak tersembunyi. Jika tidak jeli melihat, plakat emas dengan ukiran bertuliskan Guo Pei, mungkin akan terlewat.

Tapi, plakat kecil itu menjadi bukti kegigihan Guo Pei, perancang adibusana asal Negeri Tirai Bambu, yang sukses mendobrak industri mode Paris.

Nama Guo Pei baru mencuat setelah Rihanna mengenakan jubah 'telur dadar' kreasinya di acara Met Ball, New York. Tapi, perjalanan Guo Pei sudah dimulai jauh sebelum itu.

Dari Beijing, hingga hijrah ke Paris.

Memulai karirnya lebih dari 20 tahun lalu, Guo Pei menjadi salah satu perempuan pertama yang menggeluti bidang fesyen di China. Pada waktu itu, China masih tertutup dari pengaruh dunia luar, baik dari segi bisnis, kreativitas, maupun budaya.

Ia juga menjadi couturier wanita pertama dari Asia yang berhasil menembus kalender resmi Paris Couture Week sebagai anggota tamu, sebuah pekan fesyen semianual di kota fesyen terbesar, Paris.

Bukan hal yang mudah menembus panggung haute couture Paris. Apalagi, Guo Pei tidak berbicara bahasa Inggris ataupun Perancis. Tapi, itu tidak menyurutkan upayanya, Pei memulainya dengan mengadakan pameran koleksi di Les Arts Décoratifs, bentuk 'pemanasan' sebelum mengadakan show di tahun berikutnya.

Tidak hanya pamer koleksi, desainer yang berniat mengikuti pekan mode adibusana Paris pun harus punya atelier di pusat mode Perancis itu, dan mempekerjakan tak kurang dari 20 artisan. Pei, waktu itu, membuka atelier-nya di lantai dua ruang pameran.

Kedua hal itu menjadi syarat mutlak bagi couturier yang ingin mendapatkan status sebagai anggota koresponden (status tertinggi bagi desainer non-Prancis) dari Chambre Syndicale de la Haute Couture, sebuah lembaga di bawah Kementrian Perindustrian Prancis yang menangani masalah fesyen.

Di ruangan lantai dua tersebut nampak beberapa karya Guo Pei yang beberapa waktu lalu ditampilkan di runway untuk musim gugur 2016/2017.

Beberapa rak penuh dengan gaun-gaun yang dibungkus dengan kantong tisu panjang, di seberang ruangan berjejer beberapa jaket dengan sulaman benang emas 18 karat yang tampak mewah dan berat.

Koleksi Guo Pei, desainer China yang berhasil menembus industri mode internasional. (Dok. Fandi Sturz)
Di ruangan lain terdapat mesin jahit pertama Guo Pei untuk ateliernya di Paris, yang jelas masih baru. Sebuah gaun penuh payet berwarna putih nampak diletakkan di sebuah boks yang siap untuk dikirim ke klien.

Tak lupa bunga anggrek yang ada di atas setiap meja, bunga peoni di gang, dan berbagai macam yang lain di berbagai sudut serta di setiap pintu masuk.

Di antara koleksi terbaru besutan Guo Pei, terdapat perbincangan seru. Sang desainer ramah itu ditemani suaminya, Cao Bao Jie, yang akrab disapa Jack.

Pei menyebut, koleksi terbarunya untuk haute couture Paris menggabungkan sensualitas tahun 20-an ala Great Gatsby dengan siluet simpel serta regalia permaisuri China. Tak heran bila koleksi busananya didominasi warna emas, perak serta aksesori mewah dan kompleks.

Koleksi Pei waktu itu, membuat tamu undangan terpesona.

Namun, Pei, dengan keramahannya, justru tertawa lepas saat mengetahui koleksinya membuat banyak mata terkesima.

"Saya tidak pernah bermimpi akan bisa mengadakan show di Paris. Saya sedikit khawatir apakah orang-orang Paris akan menyukai apa yang saya kerjakan dengan banyaknya embroideri khas China," kata Pei.

Namun kekhawatiran tersebut tidak terbukti. Tepuk tangan gemuruh menyambut Guo Pei saat ia keluar memberi hormat dengan membungkukkan badan saat show usai.

Kesuksesan yang sekarang telah dia raih, tidak serta membuat Pei besar kepala. Dia ingin terus fokus menciptakan kreasi indah. "Saya tidak pernah menyangka akan ada di Paris. Saya selalu berfokus untuk menciptakan pakaian-pakaian indah, untuk orang-orang yang mengapresiasinya, dan tentu saja tempat terbaik untuk menampilkannya, untuk berkomunikasi melaluinya, adalah di Paris," tuturnya.

Alexander McQueen dari China

Banyak orang membandingkan Guo Pei dengan Alexander McQueen, desainer asal London yang terkenal dengan kreasinya yang rumit, bahkan magis. Sayangnya, McQueen memilih bunuh diri pada 2009.

Mengomentari hal itu, Guo Pei mengatakan, kerumitan yang dia ciptakan, terinspirasi dari keindahan, seperti alam dan kehidupan.

"Kami memiliki kesamaan, kami memiliki dunia nyata, namun kami juga memiliki dunia sendiri. Setiap gaun memiliki cerita, namun kreasi kami berasal dari sumber berbeda," papar Pei.

Atelier Guo Pei di Paris, wujud kesuksesan perjuangan sang desainer asal Beijing menembus industri mode di Kota Cahaya. (Dok. Fandi Sturz)
Dia melanjutkan, rancangan McQueen mungkin berasal dari kegelapan dan kesedihan. "Namun bagi saya, setiap pakaian haruslah berasal dari cinta dan keindahan," ujarnya.

Satu hal lagi, Guo Pei selalu membawa China kemanapun dia pergi.

"China memiliki sejarah peradaban 5000 tahun, sebuah tempo yang panjang dan kaya akan budaya," sebutnya.

Hal itulah yang kemudian dia gali, Guo Pei mengeksplorasi budaya China dari segi kerajinan tangan, filosofi, dan emosi.

Semua itu kemudian ditumpahkan Pei dalam sebuah karya yang begitu kompleks. Salah satunya, koleksi yang dia tampilkan di akhir haute couture show, berupa gaun one-shoulder berwarna emas, yang konon menghabiskan waktu hingga 20.000 jam untuk menyelesaikannya.

Kendati tetap mengedepankan detail dengan teknik kerajinan tangan yang rumit, Guo Pei tidak begitu saja menutup mata pada industri fast fashion, yang memutar roda ekonomi dunia mode. Meskipun begitu, Pei akan tetap bertahan di jalur couture.

"Saya tidak terlalu memusingkan sistem baru ini. Tapi, bagi saya, sebuah kreasi haruslah spesial dan sering kali memerlukan waktu hingga berbulan-bulan untuk menyelesaikan satu potong saja," sebutnya.

Di sisi lain, ada satu keunikan Pei. Dia terkadang 'menggandakan' pesanan klien, sehingga kreasinya tetap berada di butik. Layaknya seorang ibu yang memiliki anak, sulit baginya untuk 'melepas' rancangannya ke dunia bebas.

Pun demikian, kini kerja keras dan kegigihan Pei terbayar sudah. Dengan sebuah atelier permanen di Paris, slot kalender resmi yang nampaknya sudah ia kuasai, serta showroom di pusat kota, Guo Pei kini bebas mengepakkan sayapnya, menyebarkan kreasi pakaiannya yang sarat akan tradisi China di Kota Cahaya. (les)

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search