Jumat, 20 Mei 2016

SETITIK AIR: Kisah Pengemis Buta

Abdul Gafur, wartawan Lampung Post

SYAHDAN hiduplah seorang pengemis buta. Saban hari di pinggiran pasar Madinah Almunawaroh, pengemis itu berkata kepada siapa pun yang mendekatinya tentang Rasulullah Muhammad saw.

Namun, bukan hal baik yang terlontar dari mulutnya, melainkan perkataan buruk. "Wahai kalian, janganlah mendekatkan diri kepada Muhammad. Dia itu penyihir juga penipu yang akan memengaruhi pikiran kalian," ujarnya.

Berbagai umpatan dan tudingan buruk pengemis buta itu sampai juga ke para sahabat hingga Baginda Nabi. Beberapa sahabat terdekat hendak memberi tindakan, tetapi Nabi justru memutuskan ingin bertemu dengan sang pengemis.

Nabi pun menghampiri sang pengemis buta di pasar seraya membawa makanan. Nabi bahkan menyuapi makanan itu kepada kakek pengemis, suap demi suapan. Itu Nabi lakukan dalam sabar dan tanpa berkata sepatah kata pun.

Hal itu Nabi lakukan hampir setiap hari. Saat bersama sang pengemis, tentu adalah kata-kata buruk tentangnyalah yang Nabi dengar. Namun, Nabi tidak pernah surut, rutinitas itu ia lakukan hingga menjelang wafatnya.

Setelah wafatnya Rasululah, Abu Bakar ra mengunjungi putrinya Aisyah rha yang juga istri Nabi. "Adakah kebiasaan Nabi semasa hidupnya yang belum aku lakukan?"

Aisyah pun bercerita tentang Nabi dan pengemis buta. Mendengar itu, esok harinya Abu Bakar pun mengunjungi sang pengemis dengan membawa makanan dan mencoba menyuapi si kakek buta. Namun, setelah beberapa suapan, sang pengemis menghentikan makannya seraya bertanya.

"Siapakah engkau?"
"Engkau bukanlah orang yang biasa memberiku makan dan menyuapiku."

"Dia yang bisa datang padaku sungguh memperlakukanku penuh lemah lembut, membersihkan tubuhku, membuatku nyaman untuk makan," ujar Kakek.

"Aku memang bukanlah orang yang biasa datang padamu," jawab Abu Bakar.

"Dia yang kerap mendatangimu adalah Muhammad saw. Beberapa hari lalu beliau telah wafat. Kini aku yang akan meneruskan kebiasaannya kepadamu."

Mendengar penjelasan Abu Bakar, sang pengemis buta itu pun menangis tersedu-sedu.

"Betapa ia, Muhammad, selalu kulukai hatinya dengan kata-kataku, tapi ia tetap memperlakukanku dengan lemah lembut," ujar Kakek dalam sedunya.

Sejak saat itu, di hadapan Abu Bakar, sang kakek pun berucap syahadat. n

Let's block ads! (Why?)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming Search